Uncategorized

YKAI dan POTADS Bekerja Sama Menyelenggarakan Konsultasi dan Pemeriksaan Kesehatan Anak Down Syndrom Se-Jawa Timur

Penampilan Lagu Daerah dan Pop Indonesia dengan Angklung oleh anak-anak Down Syndrom (Foto: Yessy)
Fenews

Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI) bekerja sama dengan Persatuan Orang Tua Anak dengan Down Syndrome (POTADS) PIK Jawa Timur dan Hotel Shangri-La Surabaya mengadakan kegiatan konsultasi dan pemeriksaan kesehatan bagi anak-anak dengan Down Syndrome se-Jawa Timur. Kegiatan ini dilakukan dalam rangka memperingati Down Syndrome Awareness Month 2025, yang diselenggarakan di Ruang Nirwana dan Kahyangan, Hotel Shangri-La Surabaya, Jumat (31/10).

Kegiatan ini diadakan dengan tajuk ‘Tumbuh, Berkembang, dan Bermakna. Lebih dari Sekadar Kromosom; Kami Punya Mimpi’ Berbagai layanan kesehatan turut berkolaborasi dengan universitas dan himpunan dokter, seperti Universitas Airlangga dan Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. Tak hanya itu, himpunan tenaga kesehatan pun ikut membantu konsultasi dan pemeriksaan, antara lain Ikatan Dokter Gigi Anak Indonesia Jawa Timur, Ikatan Dokter Anak Indonesia Jawa Timur, Himpunan Dokter Spesialis Telinga, Dokter Spesialis Mata, dan Ikatan Psikologi Klinis Himpunan Psikologi Indonesia Jawa Timur.

General Manager Hotel Shangri-La menyampaikan rasa syukurnya atas terselenggaranya kegiatan ini dan berharap kegiatan seperti ini terus berlanjut. “Dalam rangka Down Syndrome Awareness Month 2025, Shangri-La juga ikut memperingatinya. Kami berharap kegiatan seperti ini tidak hanya berhenti di sini, namun bisa berlanjut. Terima kasih kepada YKAI, POTADS, serta para orang tua peserta konsultasi dan pemeriksaan kesehatan. Semoga kegiatan ini berjalan dengan lancar,” ujarnya.

Sambutan oleh Ketua Pelaksana Acara, Dr. Harry Febriyanto Sp. A. (Foto: Yessy)

Baca Juga: Dukung Kreativitas Anak, YKAI Gelar Pameran Lukisan Bertema Terima Kasih Ayah dan Bunda

Sementara itu, Endah Sugiarti, Ketua POTADS Jawa Timur, menegaskan pentingnya memahami bahwa setiap anak memiliki cara tumbuh dan berkembangnya sendiri. “Setiap anak dengan Down Syndrome bertumbuh dengan ritmenya masing-masing, berkembang dengan kekuatan dan keunikan yang dimiliki. Mereka memberikan makna luar biasa dalam keluarga dan dunia kita semua,” ungkapnya.

Endah menambahkan, ini merupakan upaya untuk menyuarakan bahwa anak-anak dengan Down Syndrome memiliki hak yang sama dengan anak lainnya. Kegiatan ini turut sebagai bentuk nyata bersama, dalam menumbuhkan kesadaran masyarakat dan memperkuat dukungan terhadap anak-anak dengan Down Syndrome. “Semoga kegiatan ini membawa kesembuhan, menumbuhkan kebersamaan, dan menjadi pengingat bahwa kita tidak berjalan sendiri. Kita adalah keluarga yang saling menguatkan.” ujar Endah

Acara dilanjutkan dengan berbagai penampilan persembahan dari anak-anak Down Syndrome. Diawali oleh penampilan angklung dengan dua lagu yakni lagu daerah dan lagu pop. Kejutan tak berhenti di situ, Mereka juga tampak antuasias untuk mempersembahkan Tarian Tradisional yakni Tari Dongklak dan Jaranan. Setelah itu dilanjutkan konsultasi dan pemeriksaan kesehatan anak-anak down syndrom.

Kegiatan ini dapat berlangsung lancar berkat panitia penyelenggara, Dr. Harry Febriyanto, Ketua Pelaksana kegiatan, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan langkah komprehensif untuk pemeriksaan dan pengawasan kesehatan anak-anak dengan Down Syndrome. “Kami menghadirkan banyak dokter spesialis mulai dari dokter anak, dokter tumbuh kembang, dokter mata, dokter THT, dokter gigi anak, hingga psikolog dan psikiater. Tujuannya agar anak-anak ini bisa mendapatkan pemeriksaan menyeluruh,” jelasnya.

Sesi foto bersama Penyelenggara Acara (Foto: Yessy)

Baca Juga: Peringati Bulan Down Syndrome, Psikolog Pinky Saptandari: Orangtua Harus Bangga Punya Anak Istimewa!

Ia menambahkan bahwa kegiatan ini sudah menjadi agenda tahunan. “Kegiatan ini rutin kami adakan setiap tahun, bekerja sama dengan Shangri-La, YKAI, dan POTADS, serta organisasi profesi seperti IDAI dan IDGAI. Tujuannya agar kami bisa terus mengawal perkembangan kesehatan anak-anak Down Syndrome di Indonesia,” tutur Dr. Harry.

Dokter spesialis anak itu juga menyoroti masih adanya stigma negatif terhadap anak-anak dengan Down Syndrome di masyarakat. “Banyak orang belum tahu bahwa ini bukan penyakit menular, melainkan kondisi genetik. Sayangnya, masih ada masyarakat yang menganggap mereka berbeda secara negatif,” ungkapnya.

Padahal, menurutnya, anak-anak Down Syndrome memiliki bakat luar biasa jika mendapatkan pendampingan yang tepat. “Mereka bisa melukis, menari, bermain musik, bahkan memainkan angklung. Kalau mereka benar-benar diperhatikan dan dikembangkan potensinya, mereka bisa luar biasa,” katanya penuh semangat. Dokter Spesialis anak tersebut juga menambahkan harapannya dalam sesi wawancara, ia menuturkan bahwa dukungan seperti ini diharapkan dapat terus berlanjut hingga puluhan tahun mendatang. 

Fatma Paramita Mytharoostadji salah satu wali yang membagikan pengalaman membesarkan anak dengan Down Syndrome di lingkungan masyarakat dan menyampaikan harapannya agar kegiatan seperti ini dapat membuka kesadaran masyarakat dan juga pemerintah untuk lebih perhatian terhadap penyandang Down Syndrom. “Di kampung kadang anak-anak yang tidak tahu memanggil anak Down Syndrom itu ‘anak gila’. Itu menyakitkan. Karena itu saya ingin stop bullying dan stop stigma negatif. Anak-anak dengan Down Syndrom juga bisa, asal dilatih dan didukung,” ujar Mytha tegas.*dym