Uncategorized

Mampir ke Sidoarjo? Nggak Afdol Kalau Belum Beli Batik Jetis, Rek!

Batik Jetis Sidoarjo. (Foto: IG/batikjetissidoarjo)
Fenews

Sidoarjo memiliki berbagai wisata, kuliner, kesenian, hingga budaya. Salah satu ciri khas dari wilayah yang dulunya bagian dari Kerajaan Jenggala ini adalah produk batik yang berasal dari daerah Jetis yang bertempat di Kelurahan Lemah Putro, Sidoarjo. Kerajinan ini masih bertahan sampai sekarang setelah eksis lebih dari 300 tahun sejak tahun 1675 silam.

Kampung Batik Jetis lahir dari gagasan seseorang yang disebut Mbah Mulyadi. Ia adalah pendatang baru dan masih keturunan kerajaan yang memutuskan singgah di Kampung Jetis. Di sana, ia mulai menyamar sebagai pedagang di pasar kaget. Penduduk setempat memandangnya sebagai orang yang berbudi pekerti baik dan seorang muslim yang taat.

Mbah Mulyadi memang kerap mengajak warga salat berjamaah, mengajarkan Al-Qur’an, serta membangun sebuah masjid yang bernama Masjid Jamik Al-Abror pada tahun 1674. Usahanya membuahkan hasil. Seiring waktu berjalan, masyarakat semakin giat beribadah. Oleh karena itu, daerah tersebut dijuluki Desa Pekauman atau desa yang menjadi tempat bagi para kaum (sebutan untuk para agamawan atau penganut agama Islam).

Tidak hanya mengajarkan agama, Mbah Mulyadi juga mengajarkan jemaah cara membatik. Mereka meresponsnya dengan positif. Selepas itu, banyak dari mereka yang membuat perkumpulan. Contohnya, kelompok pengajian. Dengan begitu, hubungan persaudaraan mereka makin kuat. Kedekatan itu tertuang dalam salah satu motif batik Jetis, yakni motif gadag yang bergambar rangkaian bunga.

Lambat laun, makin banyak orang yang menjual batik di Pasar Jetis. Pelanggan pun bertambah. Dulu, masyarakat Madura termasuk penggemar kerajinan ini. Mereka mulai request motif dan warna khas Madura. Tak ayal, batik Jetis juga disebut sebagai batik corak Madura.

Batik Jetis Sidoarjo. (Foto: YouTube/Aditya Ari Aldiansyah)

Sebelumnya, batik Jetis umumnya bernuansa gelap dengan warna cokelat soga. Motifnya pun sederhana, tak mencolok. Namun, rumus tersebut mulai berubah seiring menjawab permintaan pasar. Banyak pelanggan minta dibuatkan motif baru, seperti corak bernuansa cerah. Walhasil, mulai tahun 1980-an, kerajinan ini makin berkembang. Muncul motif-motif, seperti Motif Beras Utah, Kembang Tebu, Kembang Bayem, dan Sekardangan.

Dicatut dari laman jawatimuran.disperpusip.jatimprov.go.id, pada tahun 1990-an, mulai muncul Motif Burung Cipret, Gedog, Tumpal, Kangkung, Mahkota, Sandang Pangan, Burung Nuri, Fajar Menyingsing, Merak, Merico Bolong, serta Rawan. Adapun motif unggulan saat itu adalah Motif Sekar Jagad yang agar manusia dapat menyelaraskan diri dengan lingkungan yang beragam di alam semesta. Dengan begitu, akan muncul keserasian di tengah masyarakat.

Kampung Batik Jetis. (Foto: IG/batikjetissidoarjo)

Perjalanan pengrajin tak selalu mulus. Pada tahun 2000-an mereka harus menghadapi permintaan motif batik terbaru dari konsumen. Namun, para pengrajin tak dapat memenuhi permintaan tersebut. Mereka pun menyiasatinya dengan mengembangkan (modifikasi) motif yang sudah ada sebelumnya. 

Akhir-akhir ini, pembeli juga kerap request motif batik kontemporer yang lebih mudah diproduksi. Akan tetapi, sebagian pengrajin memilih bertahan dengan corak tradisional. Perkembangan batik di Jetis melahirkan banyak rumah produksi. Lalu, berdirilah Paguyuban Batik Sidoarjo (PBS) pada 16 April 2008. Masifnya perkembangan batik di sana menarik atensi pemerintah. Tak lama kemudian, pada 3 Mei 2008 Jetis diresmikan oleh aparat setempat sebagai Kampung Batik. Kini, sebutannya menjadi Kampoeng Batik Jetis. *pis