Harmoni Musik Kontemporer ‘Rek’ Karya Joko Porong Meriahkan ARTSUBS 2025

ARTSUBS 2025 tengah digelar di Balai Pemuda Surabaya. Pameran seni yang berlangsung selama sebulan, 2 Agustus hingga 7 September 2025, itu tak hanya menyuguhkan karya seni kontemporer, namun juga pertunjukan musik. Salah satunya karya komposer Joko Porong bertajuk ‘Rek’ yang berkolaborasi dengan grup Gamelan Sawunggaling Universitas Negeri Surabaya (UNESA).
Selama show, para penonton dihibur dengan musik kontemporer eksperimen yang memadukan berbagai alat musik, mulai tradisional, modern, hingga yang tak biasa, yakni menggunakan kursi plastik. Dari situlah tercipta suara hentakan, riuh beriringan yang mengalun harmonis bersama gamelan dan keyboard.
“Seni pertunjukan kita sudah komplit. Kita mengangkat budaya urban. Urban ala arek,” ujar Joko tentang konsep musiknya, saat ditemui di sela-sela pertunjukan, Sabtu (9/8).
Baca juga: Ketika ‘Pesona’ Pria Tertuang dalam Lukisan Karya Seniman Iqi Qoror
Pemilihan konsep ‘Rek’ pastinya tak lepas pula dari pengaruh kebudayaan masyarakat Surabaya yang kerap memanggil satu sama lain dengan panggilan “Rek” atau arek. Panggilan tersebut dianggap sebagai identitas Surabaya yang menjunjung kesetaraan derajat dan kebersamaan.
“Kebetulan kami, Gamelan Sawunggaling UNESA, melakukan riset tentang budaya arek dan urban, jadi kita tampilkan dan kemas sedemikian rupa. Banyak kesenian di kesenian urban ini sehingga menjadi musik modern,” tambahnya.

Implementasi konsep arek yang diusung Joko tersebut tertuang pada drama singkat yang ditampilkan para pemeran cilik di sela-sela pertunjukan musik. Bercerita tentang para bocah yang tengah bermain bersama, penampilan tersebut sukses mengundang gelak tawa para penonton dengan dialog-dialog dalam bahasa Jawa ‘Suroboyoan’ yang dilontarkan para pemeran sambil diiringi alunan musik sebagai pemeriah suasana.
Joko yang telah menggeluti bidang musik kontemporer sejak kecil mengaku bahwa ia tak merasakan adanya tantangan yang berarti selama persiapan maupun pertunjukan. “Tidak ada tantangan karena ini teman-teman semua sebenarnya. Kita tinggal jodohin jadwal, jodohin momen begitu. Ya, musik kami harus ada keran seni rupanya,” tutupnya. *kim



