Ketika ‘Pesona’ Pria Tertuang dalam Lukisan Karya Seniman Iqi Qoror

Ada tiga lukisan menarik yang dipajang di pameran seni ARTSUBS 2025 di Balai Pemuda Surabaya, 2 Agustus hingga 7 September. Yakni karya seniman asal Yogyakarta, Islahul Qoror atau yang lebih dikenal dengan Iqi Qoror, yang berjudul The Quiet Room, Forms of Being dan Beneath of The Surface.
Tiga lukisan itu mengambil pria sebagai obyeknya. Mereka digambarkan dalam berbagai pose. Mulai duduk, tidur di kasur, bersandar pada tembok sambil memakai headphone hingga berdiri seraya mengangkat krah kemejanya.
Jika diperhatikan, gaya dan dandanan mereka hampir sama. Mengenakan celana polos dan kemeja santai, bahkan ada yang bermotif tropis ala outfit Hawai. Bibir para pria itu berwarna kuning, alisnya tebal dan area matanya membiru.

Bukan tanpa alasan Iqi Qoror menampilkan ‘pesona’ pria dengan gambaran tersebut. Dia menyebut bibir kuning menandakan bahwa mereka telah keracunan, sementara area mata membiru adalah simbol rasa capek dan lelah. Namun apa daya, mereka harus tetap bergaya. “Di sinilah mereka harus pandai berpura-pura,” katanya.
Iqi Qoror lantas menandaskan kalau lukisannya memang beraliran hiperrealis. “Ini fenomena zaman sekarang banget. Dimana seseorang tidak lagi bisa membedakan dunia nyata dengan imajinasinya di media sosial,” katanya ketika ditemui usai Opening Ceremony ARTSUB 2025, Sabtu (2/8).

“Fenomena ini membuat seseorang punya kecenderungan kalau mau mengunggah foto pribadinya di media sosial, mereka akan membuat rekonstruksi penuh atas dirinya. Tak peduli dengan situasi yang sedang dialami. Jadi aku kayak gemes dengan kondisi ini,” paparnya.
Iqi Qoror menekankan bahwa karyanya bukan sebuah kritik. “Kalau kritik pasti harus ada solusi ya, tapi ini lebih tepatnya ngece (nyindir, red), gitu lho,” kata alumnus ITS Surabaya dan ISI Yogyakarta itu.
Berkaitan dengan obyeknya adalah para pria, Iqi Qoror membantah kalau itu sebuah kekaguman. “Justru aku sedang ngece. Karena pria itu sumber masalah. Mereka diciptakan sangat agresif. Makanya mereka perang, berantem. Penjara kan kebanyakan isinya laki-laki semua,” katanya.
Pandangan itu muncul karena Iqi Qoror terlahir dari keluarga dengan patriarki yang tinggi. Ibunya yang wanita Arab, membuatnya banyak merasakan penolakan terhadap budaya tersebut. “Ketika aku bersama keluarga besar ibuku, aku merasa tidak nyaman. Untungnya bapak dan ibuku bukan seperti itu,” katanya.
“Mungkin dari banyak penolakan itu, alam bawah sadar mempengaruhi karyaku. Sehingga figur lukisanku kabanyakan adalah laki-laki,” ujar seniman berambut gondrong yang juga gemar mengenakan kemeja Hawai itu.
Meski kini menjadi ciri khasnya, memilih pria jadi obyek lukisan bukan tanpa risiko. Iqi Qoror mengaku kerap disangka seniman gay. “Banyak yang keliru, mereka menganggap saya melukis laki-laki karena kagum. Tapi bagi saya nggak masalah karena karya seni adalah multitafsir. Terserah saja,” kata ayah dua anak itu. *



