EDUCATION

Oei Hiem Hwie, Penjaga Naskah Bumi Manusia dan Arsip Nusantara Meninggal Dunia di Usia 89 Tahun

Oei Hiem Hwie di Perpustakaan Medayu Agung. (Foto. KaryaKarsa)
Fenews

Oei Hiem Hwie, pendiri Perpustakaan Medayu Agung, meninggal dunia pada Rabu (3/9) pukul 09.30 dalam usia 89 tahun. Kesehatannya mulai menurun pada 2022, sehingga aktivitas fisiknya terbatas, dan sejak 2023 ia pun jarang hadir di perpustakaan. Almarhum wafat karena faktor usia, setelah beberapa waktu terakhir beristirahat di tempat tidur pascaoperasi patah tulang paha.bumi

Sepanjang hidupnya, Oei pernah menjadi wartawan Trompet Masjarakat dan mewawancarai tokoh-tokoh penting seperti Soekarno. Ia juga memberikan kontribusi besar dalam dunia literasi dan pengarsipan, termasuk membantu teman dekatnya, Pramoedya Ananta Toer, menyelamatkan naskah legendaris Bumi Manusia.

Di balik semua pencapaiannya, Oei dikenal sebagai sosoknya yang hangat. Mila, kerabat lama yang pernah bekerja bersama mendiang Oei di Penerbit Buku Gunung Agung, mengungkapkan, “Beliau sangat baik dan tidak membeda-bedakan siapapun. Semua orang diperlakukan sama.”

Beberapa koleksi koran milik Oei Hiem Hwie. (Foto. Tesa)

Selain dikenal hangat, Oei juga punya sisi humor yang melekat. Ani Nur, salah seorang pegawai perpustakaan, mengenang, “Beliau itu lucu, kadang suka jahil sama kami. Jadi, kami bisa sedekat itu karena Pak Oei tidak membedakan antara atasan dan pegawai.” Kedekatan itu bahkan membuat Ani merasa seperti memiliki seorang kakek sendiri, sosok yang akrab dan penuh canda.

Kehadiran Oei sehari-hari memberikan warna tersendiri. Ia selalu memberi rasa aman bagi orang-orang di sekitarnya. Hubungan antara dirinya dan para pegawai perpustakaan terjalin begitu dekat, layaknya keluarga sendiri. Mereka terbiasa merayakan ulang tahun Oei setiap 23 November sebagai bentuk kebersamaan. Namun, sejak tahun lalu, perayaan bersama itu tidak lagi dilakukan karena kondisi kesehatannya yang mulai menurun. Keluarga pun membatasi aktivitasnya agar ia dapat beristirahat.

Di balik sosok yang hangat itu, tersimpan pula kecintaan besar terhadap dunia literasi. Sejak SMP, Oei sudah hobi membaca dan mengumpulkan buku. Ia memiliki minat baca yang luas, namun beberapa karya menempati tempat khusus di hatinya. Ia hafal seluruh Tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer, mulai dari Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Buku tersebut dimilikinya sejak cetakan pertama lengkap dengan tanda tangan Pramoedya. Selain itu, ia juga menyukai buku-buku tentang Soekarno. Bahkan di perpustakaan Medayu Agung terdapat Soekarno Corner dan Pramoedya Corner sebagai koleksi khusus kedua tokoh tersebut.

Saat berada di perpustakaan, Oei biasanya menghabiskan waktunya membuat kliping, yaitu kumpulan potongan koran yang disusun berdasarkan topik tertentu. Ia senang menghimpun berbagai isu penting dan mengumpulkan setiap berita yang membahas topik tersebut. Hasilnya, tersusun puluhan map kliping yang rapi dengan beragam tema, mulai dari politik internasional, sejarah nasional, hingga tokoh-tokoh penting Indonesia.

Koleksi kliping Oei Hiem Hwie. (Foto. Tesa)

Baca juga: 5 Artis Indonesia yang Ternyata Penulis Buku

Pria kelahiran Malang tersebut juga memiliki semangat yang luar biasa. Saat diwawancarai atau menceritakan kisah masa lalunya, ia selalu antusias. Terlebih kepada mahasiswa yang mencari sumber di perpustakaan, ia selalu terbuka dan siap membantu. Oei kerap menanyakan, “Kamu mau cari apa?” lalu langsung menyajikan sumber yang dibutuhkan, tanpa pernah pelit ilmu.

Oei ingin koleksi yang ada di perpustakaan bermanfaat bagi anak-anak dan masyarakat Indonesia. Koleksi pribadinya bahkan pernah ditawar oleh seorang sejarawan asing dari Australia senilai 1 miliar rupiah, namun ditolak. Ia tidak ingin sumber-sumber yang dikumpulkannya, termasuk arsip penting, dimanfaatkan untuk kepentingan asing. Oei menegaskan bahwa semua koleksi utama di perpustakaan harus tetap dapat diakses oleh masyarakat Indonesia. Bila ada pihak luar yang ingin memanfaatkannya, mereka harus datang langsung ke perpustakaan.

Dalam pesannya, Oei berharap agar perpustakaan tidak ditutup, sehingga bisa terus memberikan dampak positif bagi generasi mendatang. Saat ini, pihak perpustakaan tengah menjalankan proses digitalisasi dan mempersiapkan peluncuran website untuk koleksi digital. Fokus utama adalah menyelamatkan arsip-arsip yang sudah tua dan mulai rapuh, seperti koran dari tahun 1980-1983 dan majalah sejak 1955, dengan progres digitalisasi saat ini baru mencapai sekitar 30-40%. *tes