Gebyar Khitan Gembira: Aksi Nyata Sahabat Gempita Beri Hak Kesehatan untuk Anak Berkebutuhan Khusus

Komunitas Sahabat Gempita Swara Semesta, yang fokus di bidang pendidikan dan pengembangan anak-anak berkebutuhan khusus (ABK), sukses menggelar acara Gebyar Khitan Gembira. Acara yang berlangsung meriah di Hotel Mercure Surabaya Grand Mirama pada Minggu (30/11) ini menjadi wadah untuk memberikan hak kesehatan sekaligus ruang bagi anak-anak menampilkan bakat dan meningkatkan kepercayaan diri.
Acara yang diadakan dalam rangka Hari Disabilitas Indonesia ini merupakan kolaborasi apik antara Sahabat Gempita dan Sentra Terpadu Prof. Dr. Soeharso Surakarta dari Kementerian Sosial Republik Indonesia.
Antusiasme peserta sangat luar biasa, bahkan melebihi kuota awal yang ditetapkan. Ini adalah kali kedua Sahabat Gempita mengadakan acara khitan. Jumlah peserta tahun ini mengalami peningkatan, dari 102 peserta tahun lalu menjadi 110 peserta tahun ini, menunjukkan kepercayaan para orang tua yang semakin tinggi.

Baca juga: Komunitas Sahabat Gempita dan Longevitology Surabaya Gelar Bhakti Sosial di Desa Kureksi, Sidoarjo
Tidak seperti acara khitan pada umumnya yang identik dengan suasana tegang, kegiatan ini dikemas menjadi menyenangkan. Anak-anak justru disambut dengan penampilan tari, puisi dan angklung.
Ketua Sahabat Gempita Swara Semesta, Yenni Darmawanti, menjelaskan bahwa acara ini dilaksanakan untuk menghilangkan kesan menakutkan dari prosedur khitan. “Kita menamai kegiatan ini Gebyar Khitan Gembira. Kenapa? Karena kita ingin memadukan kegiatan khitan dengan penampilan-penampilan dari anak-anak gembira yang selama ini beraktivitas di shelter dan mengikuti kelas terapi, juga vokasi,” ujar Yenni.
Tak hanya khitan dan penampilan, momen ini juga menjadi kesempatan untuk meluncurkan buku Antologi Sahabat Gempita. Buku ini berisi kumpulan pengalaman berharga dari para orang tua ABK yang telah mendampingi anak-anak istimewa mereka.
Yenni menekankan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk memberikan hak kesehatan bagi setiap anak, tanpa memandang latar belakang agama. “Khitan ABK ini tidak hanya untuk yang muslim, tetapi juga non-muslim. Kami juga menyertakan klaster yatim dan duafa dengan komposisi 70% untuk ABK dan 30% untuk yatim duafa,” ungkapnya.
Di antara senyum dan tawa, terselip pula perasaan haru dari para orang tua. Salah satunya adalah Intan, yang membawa anak laki-laki pertamanya yang masih berusia 3 tahun untuk dikhitan.
“Perasaan campur aduk. Umumnya khitan di atas 5 tahun, ya sudahlah demi kesehatan anak. Alhamdulillah berjalan lancar dari awal sampai akhir,” tutur Intan, sembari menceritakan bahwa anaknya sempat menangis saat prosedur jahit, namun bisa ditenangkan.
Lain lagi dengan Ayu, yang mengaku sangat bersyukur atas adanya acara ini. “Ya senang, alhamdulillah. Saya bingung karena banyak yang menawarkan khitan massal, tapi tidak ada yang menawarkan khusus untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Mumpung ada acara ini, jadi saya bersyukur sekali,” ungkapnya.
Sementara itu, Yenni berharap agar acara ini dapat terus diadakan setiap tahun. “Semoga ini bisa terus berkelanjutan setiap tahun dan juga bisa terus meningkatkan kepercayaan diri pada anak-anak yang berlatih di Gempita, bahwa setiap akhir tahun mereka akan tampil di tempat yang nyaman, bagus, dan benar-benar istimewa buat anak-anak istimewa ini.” *tes



