Komunitas Sahabat Gempita dan Longevitology Surabaya Gelar Bhakti Sosial di Desa Kureksi, Sidoarjo

Suasana Balai Desa Kureksari, Waru, Sidoarjo pada Minggu (28/9) pagi terasa berbeda. Puluhan warga bersama komunitas Sahabat Gempita Swara Semesta berkumpul dalam kegiatan Bhakti Sosial hasil kolaborasi dengan Longevitology Surabaya. Acara yang berlangsung mulai pukul 08.00 hingga 10.00 WIB ini menghadirkan layanan terapi energi secara gratis untuk masyarakat umum, khususnya anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) beserta keluarganya.
Ketua Sahabat Gempita Swara Semesta, Yenni Darmawanti, S.E., menjelaskan bahwa ide kegiatan ini berawal dari pengalaman pribadinya mendampingi anak dengan autoimun lupus. Dari perkenalan dengan komunitas Longevitology, ia kemudian melihat peluang kolaborasi untuk menghadirkan ruang inklusi.
“Saya punya cita-cita membentuk ruang inklusi di mana warga dan komunitas ABK bisa bersinergi. Alhamdulillah, setelah minta izin, kelurahan Kureksari memberikan tempat untuk bakti sosial ini,” ungkap Yenni.
Kegiatan ini ditargetkan untuk 100 peserta, dengan kuota setengah untuk warga dan setengah untuk anggota komunitas. Acara tersebut berhasil dihadiri sekitar 80 orang, menunjukkan antusiasme yang tinggi. Yenni berharap kegiatan serupa dapat diadakan kembali dengan durasi yang lebih panjang.
Ketua Perkumpulan Longevitology Surabaya, Ongko Digdoyo, menjelaskan bahwa terapi ini membantu menyerap energi positif dari alam dan menyeimbangkannya dengan energi tubuh. Dengan membuka titik-titik cakra, sirkulasi darah menjadi lebih lancar sehingga tubuh memperoleh oksigen dan nutrisi yang cukup. Hal ini diharapkan mampu memperbaiki kondisi sel, meningkatkan daya tahan tubuh, hingga membantu pemulihan berbagai penyakit.
“Saat ini kami mengajarkan ilmu ini di berbagai kota besar, seperti Surabaya. Kami juga memiliki beberapa pusat terapi di sejumlah daerah. Untuk bakti sosial di luar, kegiatan tersebut kerap dilakukan sesuai dengan permintaan. Semua layanan tidak berbayar, bahkan belajar ilmu ini pun juga gratis,” jelas Ongko yang telah mengembangkan Longevitology di Indonesia lebih dari 13 tahun.

Baca juga: Sudah 16 Tahun Dokter di Cianjur Ini Kerap Gratiskan Pasien yang Berobat ke Kliniknya
Salah satu terapis yang hadir adalah Harsilah dari Pandaan, Pasuruan. Pada 2015, ia menderita sakit serius akibat jatuh dan sulit sembuh meski sudah mencoba berbagai pengobatan medis. Setahun kemudian, Harsilah mencoba pelatihan meditasi di Jawa Barat. Di sana Harsilah bertemu anggota Longevitology yang menawarinya terapi.
“Setelah sekali terapi, saya langsung merasakan manfaatnya. Besok paginya saya sudah bisa menjahit lagi, padahal sebelumnya kalau berdiri terasa sakit,” tutur Harsilah. Akhirnya, ia memutuskan bergabung sebagai anggota Longevitology pada 2018. Kini Harsilah rutin melayani masyarakat yang membutuhkan, bahkan sering didatangi pasien hingga larut malam.
Tokoh masyarakat Desa Kureksari, Masnuh, menyambut baik kegiatan ini. Menurutnya, kegiatan sosial semacam ini sangat penting karena benar-benar berpihak pada masyarakat tanpa muatan politik maupun kepentingan tertentu.
“Ini betul-betul murni untuk masyarakat, tanpa memandang latar belakang dan agama. Tidak ada unsur politik, tidak ada urusan uang. Jadi, memang dilakukan untuk mengabdikan diri dan peduli pada kesehatan masyarakat,” kata Masnuh.
Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi kolaborasi lintas komunitas, lembaga desa, dan ahli kesehatan alternatif. Selain memberikan manfaat kesehatan, acara ini juga memperkuat solidaritas sosial, terutama dalam mendukung anak-anak berkebutuhan khusus dan keluarganya. *tes



