Wingko Cepu: Oleh-oleh dengan Cita Rasa Tradisional yang Bikin Bernostalgia

Kalau berbicara soal oleh-oleh khas daerah, nama wingko tentu sudah tak lagi asing di telinga. Kue berbahan dasar kelapa parut dan tepung ketan ini dikenal luas sebagai kudapan khas dari Babat, sebuah kecamatan di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Nama “wingko babat” sendiri diambil langsung dari nama daerah tersebut, tempat pertama kali wingko ini dibuat dan dikenal luas oleh masyarakat.
Namun, tahukah kamu kalau Cepu, sebuah kecamatan di ujung timur Kabupaten Blora, Jawa Tengah, juga memiliki sentra produksi wingko legendaris yang tak kalah melegenda?
Berjarak sekitar 25 meter dari pintu barat Stasiun Cepu, terdapat sebuah lorong bernama Gang Depo (Jalan Depo, Balun Kandangdoro, Cepu). Di sinilah Kampung Sentra Wingko berada, pusat pembuatan wingko yang sudah eksis sejak tahun 1979. Di tempat ini terdapat sekitar 7 rumah produksi pembuatan Wingko Babat.
Menariknya lagi, sejarah awal Wingko Cepu berawal dari kisah cinta di atas kereta. Pendiri wingko legendaris, Suharsono, dulunya adalah pedagang asongan di kereta, yang kemudian bertemu dengan Fitri, seorang penjual wingko di atas kereta. Mereka lalu menikah, dan membuka usaha sendiri di Cepu. Sejak saat itu, wingko buatan mereka mulai dijajakan kembali di dalam kereta sebagai oleh-oleh khas Cepu.

Salah satu merek yang paling terkenal adalah Wingko Babat cap Spoor Lokomotif. Namanya diambil dari suasana stasiun dan jalur kereta api. Spoor Lokomotif menjadi perintis sentra wingko di daerah ini, dan hingga kini masih menjadi ikon utama oleh-oleh khas Cepu.
Jika berbicara soal rasa, wingko babat Lamongan dikenal dengan teksturnya yang lebih padat dan rasa kelapa yang kuat. Sementara wingko Cepu, khususnya dari Spoor Lokomotif, memiliki tekstur yang lebih lembut, dengan sensasi lumer di mulut yang membuat siapa pun ketagihan.
“Rasanya lumer dan lembut, enak banget, beda dari biasanya,” ujar Sujud, salah satu pelanggan asal Sidoarjo. Senada dengan pernyataan tersebut, Sum, pelanggan asal Cepu mengatakan, “Rasanya enak dan lembut banget.”
Meskipun hanya memiliki satu varian rasa yaitu original, wingko dari Spoor Lokomotif hadir dalam berbagai ukuran dan harga:
Wingko kecil:
- Isi 10: Rp40.000
- Isi 15: Rp50.000
- Isi 20: Rp65.000
Ukuran biasa: Rp20.000
Ukuran jumbo: Rp250.000 (biasa dipesan untuk acara lamaran)
Dalam proses produksinya, wingko dibuat setiap hari berdasarkan pesanan dan permintaan konsumen. Proses produksi biasanya dilakukan mulai pukul 7 pagi, diawali dengan mencampur ketan, kelapa, dan bahan-bahan lainnya. Setelah itu, cetakan dialasi dengan menggunakan daun pisang dan diolesi mentega. Wingko kemudian dipanggang, proses pemanggangan dilakukan selama 30 menit untuk 2 kali pemanggangan. Hebatnya lagi, semua proses produksi dilakukan oleh tenaga kerja dari kalangan tetangga dan keluarga.
“Produksi habis-bikin habis-bikin, sekali bikin kurang lebih 400 pieces. Itu selama maksimal 1-2 hari, jadi paling sehari omsetnya sekitar 100-200,” ujar David Riwayansyah, pemilik usaha Wingko Babat cap Spoor Lokomotif.
Kini, Wingko Cepu tak hanya dikenal oleh warga lokal. Pasalnya di Cepu terdapat satu-satunya sekolah migas bersertifikasi di Indonesia, para siswa dari berbagai daerah, bahkan dari luar Pulau Jawa menjadi pelanggan tetap dan turut mempopulerkan wingko ini ke seluruh penjuru negeri. Tak heran jika wingko dari Cepu kini mulai mencuri perhatian, bahkan dari kota asalnya sendiri.
Terlebih lagi, saat ini sudah terdapat sekitar tujuh produsen wingko di Cepu dengan merek masing-masing. Namun, Spoor Lokomotif tetap menjadi yang paling menonjol, baik dari segi rasa, konsistensi, maupun sejarah panjang yang melekat padanya. Meski Wingko memang berasal dari Babat, tetapi Cepu membuktikan bahwa rasa dan kisah tak kalah penting untuk membuat sebuah oleh-oleh menjadi begitu istimewa. *ang



