BEAUTY & HEALTH

Tragis! Beauty Influencer asal Meksiko Tewas Ditembak saat Live di TikTok

Valeria Marquez, influencer asal Meksiko yang menjadi korban femisida (Foto. Net)
Fenews

Targis betul nasib Valeria Marquez, influencer kecantikan asal Meksiko. Ia tewas ditembak pria tak dikenal saat ia siaran langsung atau livestreaming di TikTok. Peristiwa yang terjadi pada Selasa (13/5) itu cukup menghebohkan karena terjadi di tengah ia live dan pastinya disaksikan banyak netizen.

Pihak berwenang menduga kematian Valeria disebabkan oleh femisida. Lantas, apa itu femisida yang menewaskan Valeria?

Dilansir dari World Health Organization (WHO), femisida didefinisikan sebagai kekerasan terhadap wanita yang mencakup beberapa aksi kekerasan, mulai dari pelecehan secara verbal dan berbagai bentuk pelecehan secara emosional, hingga pelecehan secara fisik dan seksual. Spektrum terbesar dari femisida adalah pembunuhan terhadap wanita.

Femisida dapat dikategorikan sebagai pembunuhan berencana berdasarkan gender, di mana wanita menjadi target dari aksi tak terpuji tersebut. Alasan femisida masih terus diteliti, namun beberapa sumber mengatakan bahwa kebanyakan kasus femisida dipicu oleh patriarkisme dan maskulinitas.

Intimate femicide (Femisida intim, red) menjadi jenis femisida yang paling umum terjadi. Femisida jenis ini biasanya dilakukan oleh orang-orang terdekat korban, seperti suami atau pacar. Pada sebuah studi yang dilakukan oleh WHO dan London School of Hygiene and Tropical Medicine menemukan bahwa lebih dari 35% kasus pembunuhan terhadap wanita di dunia dilakukan oleh pasangan mereka sendiri. Angka tersebut cukup besar apabila dibandingkan dengan 5% kematian pria yang dilakukan oleh wanita. Para wanita yang hidup dalam lingkungan patriarkis rentan menjadi korban femisida.

Usai ramai diperbincangkan pasca kematian Valeria, femisida rupanya telah menjadi masalah serius secara global. Merujuk pada data UN Women, Afrika tercatat sebagai benua dengan kasus femisida tertinggi pada 2023, dengan 21.700 korban diduga dibunuh oleh anggota keluarga.

Wanita di Indonesia tak luput pula dari momok menyeramkan femisida. Data Komnas Perempuan menyebutkan bahwa telah terjadi 1142 kasus femisida yang merenggut nyawa wanita Indonesia. Kelonjakan jumlah kasus terjadi pada Juni 2021 hingga Juni 2022 yang mencapai 307 kasus di seluruh wilayah Indonesia.

Komnas Perempuan membeberkan sejumlah alasan pemicu kasus femisida di Indonesia. Pemicu-pemicu tersebut bervariasi, mulai dari kekerasan seksual, kecemburuan, ketersinggungan maskulinitas, hingga masalah utang piutang. Kecemburuan menjadi faktor sejumlah kasus femisida yang terjadi di Indonesia baru-baru ini, seperti kasus pembunuhan Santi Mataniari di Deli Serdang, Sumatera Utara pada 30 Oktober 2024 lalu dan penganiayaan Dwi Irma Ayuningsih di Surabaya, Jawa Timur pada 9 Maret 2025.

Sejumlah upaya pencegahan dan penanggulangan perlu dilakukan untuk memberantas femisida. Dikutip dari CNN World, berbagai langkah dapat diambil, seperti pusat darurat bagi wanita, layanan darurat bagi korban kekerasan terhadap wanita, dan satuan polisi khusus pencegahan terhadap kekerasan dalam rumah tangga. Edukasi sejak dini mengenai hak asasi manusia dan kesetaraan gender juga dapat dilakukan untuk mencegah munculnya pelaku-pelaku femisida. *kim