Angka Pernikahan di Indonesia Terus Turun. Benarkah Karena Kurangnya Pria Mapan?

Semakin kesini, angka pernikahan di Indonesia terus mengalami penurunan. Tahun 2023 tercatat sebagai angka pernikahan terendah. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), penurunannya sebesar 7,51 persen.
Dalam satu dekade terkahir, angka pernikahan di Indonesia menurun drastis hingga 28,63 persen atau menyusut 632.791. Hal ini membuktikan banyak individu atau pasangan yang memilih menunda atau bahkan tidak ingin menikah.
Penurunan angka pernikahan ini terjadi akibat beberapa faktor. Salah satunya diungkap oleh Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UNAIR, Bagong Suyanto, yang menjelaskan bahwa fenomena ini disebabkan oleh semakin luasnya kesempatan bagi perempuan untuk mengembangkan diri dan potensi mereka, yang akrab disebut ‘Independent Woman’ atau wanita mandiri.
“Angka itu turun karena kesempatan perempuan untuk sekolah dan bekerja semakin terbuka lebar. Di samping itu ketergantungan perempuan juga menurun,” ujar Bagong, dikutip dari laman resmi Universitas Airlangga, Kamis (7/11).
Tak hanya karena semakin banyak independent woman, tetapi juga karena kurangnya laki-laki dengan kondisi ekonomi yang mapan. “Keberadaan laki-laki mapan juga makin berkurang karena sekarang mencari pekerjaan semakin sulit,” lanjutnya.
Fenomena ini dikatakan masih dalam tahapan wajar. Meski jika terjadi dalam jangka waktu yang lama, tak menutup kemungkinan akan menurunkan angka kelahiran. “Menurunnya angka pernikahan itu wajar. Tidak ada yang harus diperbaiki. Tapi yang penting memastikan hal ini berdampak positif untuk memberdayakan perempuan dan masyarakat,” pungkasnya.
Ditelisik lebih lanjut, penurunan angka pernikahan ini juga terjadi karena meningkatnya kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), maraknya kasus perselingkuhan dan tingginya angka perceraian. Hal ini menimbulkan trauma yang cukup mendalam pada generasi muda yang akhirnya enggan menjalin hubungan, khususnya menikah.
Ada pun dampak yang signifikan dalam berbagai aspek kehidupan dari menurunnya angka pernikahan di Indonesia. Untuk dampak positif, fenomena ini dapat dijadikan peluang besar untuk menaikkan kualitas sumber daya manusia yang dapat mendorong Indonesia menjadi negara maju.
Sedangkan dampak negatifnya, hal ini akan menjadi ancaman terjadinya penurunan populasi dan dapat mempengaruhi pertumbuhan penduduk seperti yang terjadi di negara-negara lain seperti Jepang, Singapura hingga Korea Selatan.



