Kenali Lebih Dekat dengan Neptune, Penyanyi Pop-Indie Asal Australia

Di Indonesia mungkin belum dikenal, namun penyanyi satu ini ternyata cukup popular di kalangan penikmat musik indie di Australia. Dialah Neptune, penyanyi, penulis lagu dan produser asal Sydney yang telah mengumpulkan lebih dari 50 juta streaming dari karya musiknya.
Kesuksesan Neptune tidak didapat secara instan. Dia menekuni bidang itu sejak sejak kecil. “Saya tumbuh di keluarga yang musical,” katanya saat diwawancara Tesalonika dari Fenews di Festival Gig on the Green Surabaya, Sabtu (20/9).
Di usia 12 tahun, Neptune mulai mencoba memainkan gitar untuk kali pertama. Sejak itu ia tidak pernah berhenti. Kecintaannya pada musik pun semakin besar. “Saya senang menulis musik, dan saya juga senang bisa membawakannya untuk banyak orang yang berbeda,” ujar Neptune.
Luca Durante adalah nama aslinya, tapi ia dikenal dengan nama panggung Neptune. Ia mengaku tidak ada alasan khusus di balik pemilihan nama panggungnya. “Waktu saya masih kecil, nama itu cuma muncul begitu saja di kepala saya dan terasa keren,” ungkapnya.
Semakin dewasa, inspirasi musik Neptune terus berubah. Ia banyak dipengaruhi oleh musik era 1970–1980-an, seperti The Beatles, Fleetwood Mac dan The Rolling Stones, band-band klasik yang sering ia dengar sejak kecil bersama keluarganya. Namun, ia juga terinspirasi dari musisi pop modern seperti John Mayer. Neptune merasa ia selalu terbuka dengan berbagai jenis musik yang memberi inspirasi baru dalam karyanya.

Baca juga: Rose ‘BLACKPINK’ Jadi Idol K-Pop Pertama yang Lagunya Menangkan Song of The Year MTV VMA 2025
Saat masuk ke proses kreatif, Neptune mengaku caranya menciptakan lagu tidak pernah sama. Kadang ia duduk dengan gitarnya dan memulai dari melodi. Namun, ada waktu dimana inspirasi datang tiba-tiba, misalnya saat ia mendengar kalimat menarik atau mendapat ide lirik ketika sedang berjalan. Ia tidak ingin membatasi proses itu dengan aturan tertentu. “Saya lebih suka mengikuti apa yang terasa pas saat membuat lagu,” ujar Neptune.
Dari situ, musik menjadi cara bagi Neptune untuk membiarkan orang lain masuk ke dalam dunianya. Ia merasa lebih mudah menulis dan membuat lagu tentang hal yang benar-benar pribadi, daripada menciptakan lagu yang ceritanya dibuat-buat atau supaya bisa laku di pasaran. Neptune lebih memilih pengalamannya sendiri, karena di situlah ia bisa mengekspresikan diri dengan jujur dan apa adanya.
Untuk pendengar yang baru mengenalnya, Neptune merekomendasikan year 13, lagu yang menjadi favoritnya saat ini. Lagu tersebut masuk dalam album terbarunya, deaf at the dinner table, yang rilis pada Juli lalu. Meski begitu, ia merasa kalau album itu lebih baik didengarkan secara utuh. “Saya menyusun lagu-lagu itu sebagai satu karya penuh. Jadi, kalau mau mengenal musik saya, kalian bisa mendengarkan seluruh albumnya,” ungkap Neptune.
Penyanyi yang juga peselancar itu mengungkapkan bahwa saat ini ia sedang menyelesaikan karya barunya. Neptune merasa bangga sekaligus bersemangat dengan prosesnya, karena karya ini membawanya semakin dalam ke ranah musik yang lebih pribadi. Yang terpenting bagi Neptune adalah tetap menciptakan musik yang ia suka dan benar-benar dekat di hatinya. *tes



