4 Candi Peninggalan Kerajaan Majapahit yang Jadi Destinasi Wisata Favorit di Mojokerto

Akhir pekan memang saat yang tepat untuk berdarmawisata. Kali ini, FENEWS rekomendasikan lokasi yang banyak dikunjungi wisatawan. Yakni empat candi yang berada di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur. Destinasi ini tak hanya menarik untuk dikunjungi, tapi juga tempat yang tepat untuk belajar sejarah Kerajaan Majapahit yang pernah berjaya di Pulau Jawa.
Sebagai salah satu kerajaan terbesar di Nusantara, Majapahi meninggalkan situs candi yang indah dan penuh makna. Sebelum menjelajah langsung ke lokasinya, kepoin dulu Sejarahnya yuk!
- Candi Wringin Lawang

Berasal dari kata wringin yang berarti pohon beringin dan lawang yang berarti pintu, candi ini dipercaya menjadi pintu gerbang menuju wilayah kerajaan Majapahit. Menurut Mbah Jono, juru kunci Candi Wringin Lawang, nama Wringin Lawang diambil karena bagian sebelah kiri atas candi ini sempat mengalami kerusakan akibat akar pohon beringin yang menembus ke dalam struktur candi.
“Ditemukan tahun 1815 rehabilitasi tahun 1991 sampai 1993. Separuh kan putus sebelah, sebelah kanan masih asli” Jelas pria berusia hampir 70 tahun ini.
Rehabilitasi kemudian dilanjutkan pada tahun 1993 hingga 1995 untuk memindahkan makam umum yang kemudian saat ini berada di samping kanan kiri situs.
Bentuk bangunan candi ini adalah bentar yang berarti tidak beratap sehingga difungsikan sebagai pintu gerbang pada masa itu. Dengan ketinggian sekitar 15,50 m, bangunan ini berdiri megah menghadap arah barat dengan susunan dari bata merah. Pada halaman situs ini juga terdapat banyak tanaman maja. Bagi Anda yang ingin mengetahui secara langsung tanaman yang menjadi latar belakang penamaan Majapahit, Anda akan menemuinya tumbuh subur di sini.
Untuk melihat kemegahan gapura menuju wilayah Kerajaan Majapahit ini, Anda hanya perlu membayar Rp4.000,00 untuk kategori dewasa dan Rp2.000,00 untuk kategori anak-anak.
- Candi Brahu

Candi Brahu dipercaya telah dibangun jauh sebelum Kerajaan Majapahit, bahkan sebelum Kerajaan Singasari. Berdasarkan penuturan Said, juru pelihara Candi Brahu, Candi Brahu dibangun pada masa Kerajaan Medang Kamulan dengan seorang raja yang bernama Mpu Sindok.
“Candi Brahu dibangun pada masa Kerajaan Medang Kamulan, kerajaan dari Mataram Kuno pindah ke Jawa Timur karena ada pralaya atau bencana, yaitu gunung api meletus. Dipindahlah kerajaannya di Kediri” Tutur Said.
Hal ini dibuktikan dengan penemuan prasasti Alasantan pada tahun 939 atau 861 Saka. Pada prasasti tersebut termaktub tulisan “Warahu” atau “Waharu” yang memiliki arti bangunan suci tempat pemujaan bagi agama Budha yang diyakini menjadi cikal penamaan Candi Brahu.
“Ada yang mengatakan Brahu itu berasal dari kata ‘berabu’ ada yang mengatakan sebagai tempat perabuan atau Raja Majapahit. Tetapi tidak ditemukan bukti secara otentik maupun arkeologis bahwa Candi Brahu ini merupakan tempat pembakaran mayat” Jelasnya.
“Candi adalah bangunan suci sedangkan mayat itu kotor. Jadi kemungkinan bisa dibakar di bawah kemudian ditaruh sebagian abu atau didharmakan” Tambahnya.
Berdiri dengan gagah setelah 2 kali pemugaran, tahun 1920 pada masa pemerintahan Belanda dan pada tahun 1990-1995 oleh Dinas Suaka Peninggalan Sejarah Purbakala. Candi Brahu akhirnya diresmikan pada 9 September 1995 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Dr.Ir.Ing Wardiman Djojonegoro.
Terletak di Dusun Muteran, Desa Kejagan, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, hingga kini Candi Brahu ramai dengan kunjungan wisatawan. Untuk bisa melihat secara langsung kegagahan Candi Brahu ini Anda cukup merogoh kocek sebesar Rp4.000,00 untuk kategori dewasa dan Rp2.000,00 untuk kategori anak-anak.
- Candi Bajang Ratu

Berasal dari kata bajang yang berarti kecil dan ratu yang berarti pemimpin atau raja, Candi Bajang Ratu dibangun sebagai pendharmaan wafatnya raja kedua Majapahit, Raja Jayanegara pada tahun 1328 saka. Konon, Raja Jayanegara memimpin Majapahit pada usianya yang masih sangat muda, yaitu 15 tahun.
Samsul Hadi, seorang petugas di Gapura Bajang Ratu sejak tahun 1991 ini memberi penjelasan bahwa “Karena ini adalah sebuah gapura, oleh karena itu digunakan sebagai pintu gerbang menuju ke sebuah bangunan suci untuk menghormati meninggalnya Raja Jayanegara” Jelas Samsul Hadi, Petugas Gapura Bajang Ratu.
Setiap struktur pada candi ini memiliki makna yang mendalam. Pada bagian atas atau kepala candi terdapat relief kala atau batara kala yang dipercaya menjadi pelindung atau penolak bala. Juga terdapat relief pada masing-masing sayap candi yang menggambarkan cerita Ramayana dan Sri Tanjung untuk menggambarkan peruwatan atau doa.
“Menurut Kitab Negarakertagama, Raja Jayanegara kembali ke Dunia Wisnu yaitu alam kematian dan didharmakan di Antawulan atau Trowulan” Sambung Samsul Hadi.
Hingga kini situs candi Bajang Ratu ramai dikunjungi wisatawan lokal hingga mancanegara. Struktur bangunannya yang menawan dan penuh arti menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Keanggunan arsitektur Candi Bajang Ratu menjadikannya lokasi favorit untuk mengabadikan momen spesial seperti album kenangan sekolah hingga foto prewedding. Cukup dengan membayar sebesar Rp4.000,00 untuk kategori dewasa dan Rp2.000,00 untuk kategori anak-anak untuk mempelajari sejarah dan mengabadikan momen bersama ikon bersejarah ini.
- Candi Tikus

Berbeda dari 3 candi sebelumnya, Candi Tikus berada di bawah tanah karena merupakan bangunan petirtaan atau bangunan yang menggunakan air sebagai elemen utamanya. Terletak di Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Candi Tikus ditemukan pada tahun 1914 oleh masyarakat Temon.
Menurut Nyono, penjaga situs Candi Tikus, dahulu kawasan candi ini merupakan daerah sawah dengan tanaman padi, saat itu banyak tikus menyerang dan menjadi hama bagi tanaman padi hingga saat hendak dibasmi tikus-tikus itu berlari pada gundukan tanah dan ketika digali ternyata ditemukan bangunan candi, sehingga diberi nama Candi Tikus.
“Dulu itu masyarakat sekitar sini punya tanaman padi lalu dirusak oleh hama tikus. Saat dikejar, tikus itu lari ke gundukan tanah. Ternyata saat digali ada candinya” Jelas Nyono.
Dipercaya pada masa Kerajaan Majapahit, bangunan ini digunakan sebagai tempat pemandian bagi putri-putri raja. Hingga kini Candi Tikus ramai dikunjungi wisatawan karena keunikannya yang berada di bawah permukaan tanah.
Selain 4 candi yang telah disebutkan di atas, pada daerah Trowulan juga terdapat bangunan bersejarah lainnya seperti Candi Gentong, Budha Tidur, Kolam Segaran, juga Museum Majapahit Trowulan. Dengan berwisata pada peninggalan sejarah, Anda tak hanya berekreasi namun juga belajar dan mengetahui secara langsung peninggalan-peninggalan sejarah di Indonesia! *fie



