TikToker ini Bongkar Cara Restoran Tipu Pelanggan agar Bayar Lebih Banyak Uang

Anda pernah merasa tertipu saat makan di sebuah restoran dan uang yang dikeluarkan terasa lebih banyak dari yang seharusnya? Mungkin Anda sedang ‘ditipu’ oleh taktik psikologis yang dilakukan oleh restoran agar Anda rela merogoh kocek dalam usai menyantap hidangan.
Seorang wanita asal Amerika Serikat bernama Basia yang mengaku sebagai ahli psikologi dan marketing di TikTok membagikan beberapa contoh taktik restoran yang jarang disadari banyak orang. Menurut video yang ia unggah melalui akunnya @everupmarketing pada Sabtu (12/4), terdapat 6 taktik yang sering membuat pelanggan tertipu. “Ini bukanlah kebetulan, namun taktik persuasi psikologis, dan restoran terbaik menggunakannya tanpa Anda sadari,” tulisnya pada caption video tersebut. Lantas, apa saja taktiknya? Simak daftarnya berikut ini.
- Selalu ada menu yang dihargai sangat mahal atau overpriced

Menemukan menu dengan harga yang tidak lazim atau overpriced tentu membuat banyak orang lebih memilih untuk membeli menu yang lebih murah. Hal ini dilakukan oleh restoran agar menu lain dengan harga yang tampak lebih murah dan worth it menjadi laku. Yang tak banyak disadari adalah menu dengan harga ‘murah’ itu sebenarnya tetap mahal jika dibandingkan dengan restoran lain. Hanya saja, adanya menu overpriced yang menjadi patokan membuat menu-menu lain tampak lebih masuk akal untuk dibeli.
- Mengisi penuh wadah tip

Meski memberi tip bukan hal yang umum di Indonesia, kebiasaan ini menjadi hal yang lumrah bahkan budaya di Eropa dan Amerika. Mereka menyisihkan sebagian uang dan memberikannya kepada restoran sebagai bentuk apresiasi atas pelayanan baik yang mereka dapat. Namun, tak jarang restoran di sana yang seakan memberi tekanan kepada pelanggan agar terdorong untuk membayar tip meski mereka tak ingin melakukannya. Taktik yang mereka lakukan adalah dengan cara mengisi penuh wadah tip dengan uang agar para pelanggan tergerak untuk memberi tip karena berpikir pelanggan melakukan hal serupa.
- Menulis menu spesial pada hari tertentu

Banyak restoran biasanya memasang papan di depan pintu masuk yang menunjukkan menu spesial atau menu terbatas yang hanya tersedia pada hari tertentu dengan tulisan “Today’s Special” atau “Menu Hari Ini”. Para pelanggan yang melewati dan membaca papan tersebut seketika berpikir bahwa menu yang tertulis pada papan tersebut adalah menu limited edition yang tidak akan tersedia di hari lain sehingga mereka langsung masuk ke dalam restoran untuk memesan menu tersebut. Namun, menurut Basia, banyak restoran yang melakukan taktik licik dengan memasang papan menu spesial padahal menu yang tertulis selalu tersedia setiap hari.
- Menanyakan pilihan air mineral

Alih-alih menanyakan apakah pelanggan ingin pesan air mineral atau tidak, beberapa restoran langsung menanyakan pilihan air mineral biasa atau air mineral sparkling untuk memaksa pelanggan memesan air mineral. Pelanggan yang ditawari pilihan seperti itu oleh pelayan tentu saja tidak dapat menolak dan terpaksa harus memesan air mineral meski mereka ingin memesan minuman lain atau tidak sama sekali.
- Tidak menyertakan mata uang pada buku menu

Menulis harga dengan jelas pada buku menu merupakan hal yang penting sebab hal tersebut menjadi panduan bagi pelanggan yang ingin memesan makanan dengan menimbang menu mana yang harganya sesuai dengan budget. Namun, absennya mata uang di buku menu membuat pelanggan seakan tersihir karena menganggap angka yang terpampang hanyalah angka biasa, bukan harga dari menu yang dipilih.
- Mengatur pilihan lagu yang diputar sesuai tingkat keramaian

Alunan musik yang didengarkan oleh para pelanggan rupanya dapat memengaruhi durasi dan kecepatan mereka saat makan di restoran. Pasalnya, makin lambat tempo lagunya, makin lama pelanggan makan di restoran. Sedangkan jika lagu yang diputar bertempo cepat, pelanggan akan merasa terdesak untuk makan dengan cepat kemudian segera meninggalkan restoran. Hal ini efektif untuk mengurai jumlah pelanggan yang datang ketika jumlah yang datang membludak. *kim



