Kenapa Film Perselingkuhan Tak Pernah Sepi Penonton di Asia Tenggara?

Film tentang perselingkuhan sering jadi bahan perbincangan. Di satu sisi menuai kontroversi, tapi di sisi lain justru banyak ditonton. Contohnya film Norma di Indonesia, yang berhasil menarik perhatian publik karena kisahnya terasa dekat dengan kehidupan nyata.
Dilansir dari BBC, Komite Film Dewan Kesenian Jakarta, S.M. Gietty Tambunan, menjelaskan bahwa film seperti ini bisa menjadi wadah bagi perempuan untuk menceritakan pengalaman mereka. Selama ini, perempuan jarang memiliki ruang untuk menyuarakan pengalaman mereka. Melalui film, akhirnya muncul kesempatan bagi mereka untuk saling menguatkan dan memberi inspirasi satu sama lain.
Mengapa film selingkuh terasa relevan? Salah satunya karena mencerminkan ketimpangan yang masih ada di masyarakat. Di beberapa negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Malaysia, dan Myanmar, laki-laki yang ketahuan selingkuh sering lolos dari sanksi sosial. Bahkan poligami masih diperbolehkan secara hukum di sebagian negara. Sebaliknya, perempuan yang dituduh selingkuh bisa kehilangan banyak hal, mulai dari hak dalam rumah tangga hingga reputasi di mata masyarakat. Situasi ini kemudian sering muncul dalam film, seolah menjadi cermin kenyataan sehari-hari.

Baca juga: Norma, Film Indonesia yang Jadi Trending di Netflix Asia Tenggara
Dalam risetnya tahun 2018 berjudul Shaming The Other Woman (Pelakor): Female Catfight As A Spectacle In Social Media, Gietty menemukan bahwa ketika kasus perselingkuhan terungkap, serangan di media sosial hampir selalu diarahkan kepada perempuan, sementara laki-laki justru jarang menjadi sasaran. Dalam banyak film, perselingkuhan digambarkan lewat pertentangan antara istri dan orang ketiga. Sang suami justru sering ‘menghilang’ dari sorotan. Hasilnya, penonton lebih banyak melihat pertarungan dua perempuan ketimbang membicarakan tanggung jawab laki-laki.
Fenomena pertengkaran antara sesama perempuan sering dijadikan bahan utama dalam film bertema perselingkuhan. Dalam budaya populer, hal ini dikenal dengan istilah female catfight dan terbukti digemari pasar. Gambaran tentang perempuan yang saling berkonflik bahkan kerap diseksualisasi. Contohnya bisa dilihat pada komik atau tayangan hiburan yang menampilkan adegan berlebihan, seperti perempuan yang saling menyerang di dalam lumpur, lalu pola dramatisasi ini kemudian diadaptasi juga dalam film.
Larisnya film selingkuh di Asia Tenggara juga dipengaruhi budaya menonton. Masyarakat di kawasan ini sudah terbiasa dengan cerita melodrama, kisah penuh konflik, air mata dan emosi yang meledak-ledak. Tidak heran kalau film selingkuh cepat terasa dekat dan mudah diterima. Dalam film bertema perselingkuhan, sering ditunjukkan perbedaan antara istri sah dan orang ketiga. Istri biasanya digambarkan sebagai sosok pekerja keras, penyayang dan santun. Sebaliknya, orang ketiga sering ditampilkan dengan pakaian yang lebih terbuka, bersikap genit bahkan licik.
Tidak jarang juga ada adegan sensual antara suami dan orang ketiga yang menyoroti tubuh perempuan secara berlebihan. Pola cerita seperti ini memang memberi efek dramatis, tetapi tanpa disadari ikut memperkuat cara pandang yang merugikan perempuan. Meski sering menuai kritik, nyatanya konflik antarperempuan dalam kisah perselingkuhan tetap dianggap menarik oleh pasar, baik di Asia Tenggara maupun di banyak negara lain. *tes



