STORY

Susah Dapat Pekerjaan, Gen Z di China Pura-Pura Sewa Kantor Agar Tak Dicap Pengangguran

Penampakan Kantor 'Palsu' di China (Foto. YouTube/FRANCE 24 English)
Fenews

Tekanan ekonomi dan persaingan kerja yang semakin ketat di China membuat banyak orang kesulitan mendapatkan pekerjaan. Imbasnya, jumlah pengangguran di China mengalami peningkatkan. Demi menutupi status pengangguran yang dipandang sebelah mata, banyak yang mulai memakai jasa persewaan kantor.

Dilansir dari South China Morning Post, tren sewa kantor ‘palsu’ bermula saat sebuah video mendadak viral di media sosial China. Video yang diketahui diambil di provinsi Hebei, China itu menunjukkan sebuah pemilik kantor sekaligus penyedia layanan yang mempromosikan sewa kantor. Dengan harga 29,9 yuan, atau sekitar Rp68 ribu, para pengangguran dapat menggunakan ruangan yang ada untuk pura-pura bekerja mulai pukul 10 pagi hingga 5 sore. Tak hanya itu, terdapat pula fasilitas makan siang yang sudah termasuk dalam biaya sewa tersebut.

“Dengan 29,9 yuan per hari, anda dapat pura-pura bekerja di sini mulai pukul 10 pagi sampai 5 sore, termasuk makan siang,” ujar sang pemilik kantor, dikutip Kamis (17/7).

Baca juga: Ayah di China Sewa Gamer Profesional Demi Hentikan Anaknya Kecanduan

Dari Pengangguran jadi Bos dalam Sekejap (Foto. YouTube/FRANCE 24 English)

Pemilik kantor lainnya juga menawarkan layanan serupa dengan biaya 50 yuan, atau Rp114 ribu. Dengan harga yang tak murah itu, para pengangguran dapat merasakan pengalaman menjadi bos sebuah perusahaan. Ruangan yang digunakan diatur sedemikian rupa agar tampak seperti ruangan bos, lengkap dengan furnitur pendukung seperti meja pribadi, komputer, dan kursi kulit empuk. Mereka dapat berpose di ruangan tersebut dan mengirimkannya kepada keluarga mereka agar terlihat sedang bekerja.

Tren yang telah meraih 100 juta jumlah tontonan dan mendapat berbagai reaksi dari warganet China itu meningkatkan kekhawatiran akan sulitnya mencari pekerjaan. Menurut data, pada Juni 2023, sekitar 21,3 persen remaja China berusia 16-24 tahun merupakan pengangguran. Angka tersebut kemudian sedikit menurun hingga 16,1 persen pada November.

Stigma sosial yang ada pada masyarakat sekaligus tekanan dari keluarga menyebabkan depresi pada pengangguran. Hal inilah yang mendorong terjadinya fenomena sewa kantor agar keluarga mereka merasa tenang melihat anaknya memiliki pekerjaan.

“Pengangguran membuat stres, tapi saya tidak mau menularkan hal negatif tersebut kepada keluarga saya,” pungkas seorang mantan karyawan perusahaan E-Commerce asal Hangzhou bernama Jiawei yang terpaksa menganggur karena perusahaannya bangkrut. *kim