RELATIONSHIP

Bukan Lemah, Ini Alasan Sulit Keluar dari Toxic Relationship

Ilustrasi Toxic Relationship (Foto. Unsplash)
Fenews

Banyak orang bertanya-tanya, mengapa seseorang tetap bertahan dalam hubungan yang jelas-jelas menyakitkan seperti toxic relationship. Tak sedikit yang memandangnya sebagai bentuk kelemahan. Padahal, secara psikologis, ada banyak alasan kompleks yang membuat seseorang sulit pergi dari hubungan yang melukai perasaan, mental, bahkan harga dirinya.

Dilansir dari US News Health, salah satu faktor paling dominan adalah trauma bonding, yaitu ikatan emosional kuat yang terbentuk antara korban dan pelaku melalui siklus kekerasan yang diselingi fase kasih sayang. Pola ini membuat korban terjebak dalam harapan palsu bahwa pasangan akan berubah, meski luka terus berulang.

Trauma bonding sendiri dipicu oleh respons biologis tubuh terhadap stres dan ancaman, di mana hormon seperti kortisol dan dopamin berperan dalam menciptakan keterikatan emosional yang dapat menyerupai pola kecanduan. Akibatnya, korban sulit melepaskan diri meski menyadari hubungannya berbahaya.

Baca juga: Jangan Terjebak! Ini Tanda-Tanda Hubungan Toxic yang Harus Dihindari

Perasaan takut dan kesepian menjadi alasan umum seseorang tetap bertahan. Mental Health Counsellor Arouba Kabir, pada sebuah program bincang dengan ABP NEWS, menyebut rasa takut ditinggalkan dan memulai hidup baru membuat banyak orang memilih mempertahankan hubungan toxic dibanding menghadapi ketidakpastian.

Tak hanya itu, tekanan sosial dan narasi romantisasi cinta juga turut berperan. Masyarakat sering mengajarkan bahwa cinta sejati harus diperjuangkan sekeras mungkin, sehingga banyak orang menormalisasi penderitaan dalam hubungan. Pola pikir ini dapat membuat korban memandang penderitaan sebagai bagian dari komitmen cinta.

Bertahan dalam hubungan yang menyakitkan bukanlah kebodohan, melainkan respons psikologis yang terbentuk dari trauma, keterikatan emosional, ketakutan, serta tekanan sosial. Kesadaran diri, dukungan lingkungan, dan bantuan profesional menjadi langkah penting agar seseorang mampu keluar dari lingkaran hubungan toxic dan memulihkan kesehatan mentalnya. *grc