BEAUTY & HEALTH

Tren Anti-Aging 2025: Merawat Diri dari Dalam Jadi Kunci

Fenews

Tren anti-aging di 2025 berubah cukup jauh dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Menurut dr. Ruth Julyana, Dipl.AAAM, saat diwawancara Fenews di Profira Clinic Pakuwon Square pada Jumat (14/11), orang-orang sekarang tidak lagi melihat anti-aging hanya sebagai urusan kulit atau soal tampil cantik. Mereka mulai sadar bahwa merawat diri itu harus dimulai dari dalam.

“Kalau jiwanya sehat, tubuhnya sehat, pasti kulitnya juga akan sehat,” jelas dr. Ruth. Karena itu, gaya hidup sehat lebih digemari. Selain skincare, banyak orang menambahkan terapi seperti hiperbarik oksigen (HBOT), sauna, mengatur pola makan hingga memperbaiki gaya hidup sehari-hari.

Perawatan anti-aging di usia 25-30 juga sudah dianggap wajar. Menurut dr. Ruth, hal ini aman selama disesuaikan dengan kebiasaan dan kondisi kulit masing-masing. Yang terpenting adalah memilih perawatan yang bisa merangsang produksi kolagen sambil tetap menjaga hidrasi kulit, skin barrier dan kelembapan. Tidak lupa juga memberi kulit nutrisi yang sesuai dengan kebutuhan kulit.

Di 2025, para beauty enthusiast cenderung mencari perawatan yang hasilnya tahan lama dan bekerja dari dalam, bukan yang sifatnya instan. Mereka lebih tertarik pada treatment yang mendukung kesehatan kulit secara menyeluruh dan melengkapi rutinitas mereka dengan suplemen, olahraga, pola makan yang lebih teratur serta kebiasaan hidup yang lebih mindful. Ada juga beberapa inovasi yang mendukung regenerasi kulit, seperti penggunaan Cinewix dan terapi hiperbarik oksigen yang membantu proses perbaikan kulit lebih cepat.

Dokter kecantikan dan anti-aging, dr. Ruth Julyana (Foto. Tesalonika)

Baca juga: Tiga Produk Skincare yang Wajib Dimiliki. Fungsinya Nggak Main-Main!

Soal kebingungan harus mulai dari skincare atau treatment terlebih dulu, dr. Ruth menjelaskan kalau keduanya justru saling melengkapi. “Seperti kerutan, kita nggak bisa cukup hanya pakai skincare atau pada problem jerawat, kadang juga perlu peeling atau facial. Jadi keduanya tetap harus berjalan imbang,” ungkapnya.

Kesalahan yang paling sering terjadi justru ada pada gaya hidup. Banyak orang rajin datang ke klinik, tetapi tidur kurang, makan sembarangan dan stresnya tidak dikelola. Akhirnya hasil perawatan jadi tidak bertahan lama. Padahal, menjaga hasil awet membutuhkan pendekatan yang lebih seimbang yaitu skincare yang tepat, treatment rutin, tidur cukup, pola makan yang baik dan manajemen stres.

Untuk memilih perawatan ringan atau yang lebih intens, dr. Ruth menyarankan agar keputusan ini tetap dibantu dokter. Tanda penuaan memang bisa terlihat sendiri, tetapi menentukan langkah yang tepat sebaiknya dilakukan dengan tenaga profesional untuk menganalisa apakah harus melakukan perawatan yang ringan atau perawatan yang lebih serius. 

Menurut dr. Ruth, menjaga hasil anti-aging agar tetap natural sebenarnya kembali pada prinsip sederhana yaitu jangan berlebihan. Ia melihat bahwa banyak pasien saat ini memang ingin tampilan yang lebih natural. Meski ada juga yang memilih tindakan lebih agresif seperti operasi, sebagian besar masih menginginkan hasil yang lembut dan alami.

Masalahnya, godaan untuk menambah perawatan biasanya muncul. Misalnya, filler yang sudah terlihat bagus masih ingin ditambah lagi. Di sinilah pentingnya peran dokter untuk mengontrol. Bagi dr. Ruth, dokter yang bijak tidak akan mengiyakan semua permintaan pasien. Mereka akan memastikan tindakan yang dilakukan sesuai kebutuhan kulit dan tetap dalam batas yang wajar, supaya hasilnya tetap proposional.

Terakhir, dr. Ruth mengingatkan bahwa kebiasaan sehari-hari justru punya pengaruh besar. Ia menyarankan untuk membatasi makanan berminyak dan tinggi garam, menjaga rutinitas olahraga, memperbaiki pola tidur serta mengelola stres dengan lebih baik. *tes