
Ada yang menarik di acara Gelar Karya P5 (Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) yang digelar SD Ta’miriyah Surabaya di Balai Budaya, Jl Gubernur Suryo Surabaya, Kamis (19/06) lalu. Para siswa dari Kelas 4 menampilkan pentas Sendratasik (Seni, Drama, Tari dan Musik) yang memukau, bertajuk Legenda Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang.
Kisah itu memang menjadi cikal bakal berdirinya Candi Prambanan di Yogyakarta. Cerita ini bermula ketika Bandung Bondowoso berniat mempersunting Puteri Roro Jonggrang. Namun karena tidak mau, Roro Jonggrang pun memberikan syarat yang berat agar Bandung Bondowoso tak bisa menikahinya. Yakni membuat 1000 candi dalam waktu semalam.


Namun Bandung Bondowoso tak kehabisan akal. Dia bekerjasama dengan makhluk lain (jin) untuk bisa mengabulkan permintaan Roro Jonggrang. Namun sayang, ketika candi ke 999 sudah jadi, para jin tak bisa melanjutkannya. Dia lari terbirit-birit karena menyangka malam sudah berganti terang.
Padahal itu adalah siasat Roro Jonggrang agar pagi datang lebih awal. Yakni dengan memerintahkan rakyatnya memukul lesung dan membakar lumbung, sehingga ayam pun berkokok.

Kisah Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang itu ditampilkan dengan apik oleh para siswa kelas 4 A, B dan C tersebut. Menariknya pula, pelatih untuk pentas itu adalah para wali kelas mereka, yakni ustadz Rohman, ustadzah Kiki dan ustadzah Hanif. “Anak-anak terbiasa melakukan pentas seni dan drama. Sehingga ketika mau pentas lagi, mereka tidak kesulitan,” ujar ustadz Rohman.
Untuk persiapan pentas tersebut, Rohman mengatakan hanya butuh latihan selama satu bulan. “Kurang lebih satu bulan, anak-anak latihan. Tapi selama latihan, kami serius dan disiplin. Masing-masing siswa juga sudah paham dengan perannya masing-masing,” ungkapnya Wali Kelas 4C itu.

Dipilih Legenda Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang juga bukan tanpa alasan. Ustadzah Hanif mengatakan kalau kisah ini sangat menarik dan para siswa-siwa belum banyak yang tahu. Sehingga mereka berusaha memelajarinya. “Jadi mau tidak mau, mereka mencari tahu. Secara tidak langsung pula, kami mengenalkan mereka betapa Cerita Rakyat kita sangat banyak,” ungkap Wali Kelas 4C itu.
Sementara itu, Ustadzah Kiki mengatakan persiapan yang dilakukan para siswa untuk pentas tersebut juga sangat rinci. “Pastinya dimulai dengan reading, setelah itu latihan gerak dan musik, tari juga. Untuk tari, kami melibatkan instruktur tari dari luar sekolah. Sementara untuk kostum dan properti yang lain, kami, para wali kelas ini yang bertanggungjawab,” pungkas Wali Kelas 4B itu. *



