EVENTPLEASURE

Resmikan A.T.I.C, Quds Royal Hotel Surabaya Dukung Pengembangan Kawasan Wisata Segitiga Emas

oplus_18
Fenews

Quds Royal Hotel Surabaya resmi meluncurkan Ampel Tourist Information Center atau A.T.I.C, Jumat (8/8) kemarin. Pusat pelayanan informasi ini memberi kemudahan bagi wisatawan yang akan berkunjung ke kawasan Ampel, Kampoeng Heritage Peneleh dan Surabaya Kota Lama.

Menurut Pungky Kusuma, Cluster General Manager Quds Hotel Group Indonesia, keberadaan A.T.I.C adalah bentuk kepedulian pelaku usaha terhadap program pemerintah kota Surabaya, khususnya di bidang Pariwisata. “Kami merasa terpanggil untuk turut serta mengembangkan potensi wisata dengan karakteristik yang unik dan khas,” katanya saat ditemui di Launching A.T.I.C, Jumat (8/8) sore.

Meski letaknya di Quds Royal Hotel, Pungky menandaskan bahwa A.T.I.C. tidak hanya untuk pengunjung hotel saja, tapi juga wisawatan secara umum. “ATIC terbuka untuk umum dan menyediakan informasi lengkap bagi wisatawan domestik maupun mancanegara yang ingin menjelajahi kawasan ‘Segitiga Emas’ Surabaya, yaitu Wisata Religi dan Kuliner Ampel, Kampoeng Heritage Peneleh, serta Surabaya Kota Lama,” ungkapnya.

Pungky Kusuma, Cluster General Manager Quds Hotel Group Indonesia. (Foto. Ami)

Dia juga menandaskan bahwa Quds Royal Hotel tidak memungut biaya sepeser pun bagi wisawatan yang menggunakan fasilitas A.T.I.C. Hanya saja, jika membutuhkan pemandu atau guide, mereka cukup mengeluarkan biaya sekitar Rp150 ribu hingga Rp200 ribu. “Guide ini merupakan orang Ampel asli yang paham kondisi budaya dan sosial ekonomi setempat Mereka siap memandu, mendampingi dan merekomendasikan destinasi wisata mana saja yang menarik,” ujar Pungky.

Keberadaan A.T.I.C pastinya disambut baik oleh Disbudporapar (Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata) Kota Surabaya. Dalam sambutannya di peluncuran A.T.I.C, Farah Andita Ramdhani, Kepala Bidang Pariwisata Disbudporapar, mengapresiasi inovasi yang dilakukan Quds Royal Hotel. “Ini merupakan pusat informasi layanan wisata Ampel yang pertama. Sebelumnya tidak ada di Surabaya. Karena itu kami sangat support,” ujarnya.

Heti Palestina (kiri) dan Farah Andita Ramdhani, Kabid Pariwisata Disbudporapar Kota Surabaya. (Foto. Ami)

Sebenarnya Kawasan Ampel dan sekitarnya sudah sangat dikenal dan ramai pengunjung. Namun rata-rata mereka adalah peziarah, karena di kawasan ini berdiri salah satu masjid tertua dan makam seorang wali, Sunan Ampel. Alasan ini pula yang membuat A.T.I.C ada. “Karena tidak semua pengunjung adalah peziarah. Ada juga wisatawan yang ingin menikmati Kawasan wisatanya saja,” katanya.

“Mereka inilah yang perlu diedukasi, titik kuliner itu di mana, kalau beli oleh-oleh di mana. Selain masjid dan makam, Ampel juga punya daya tarik lain, yaitu kampung Arab. Potensinya sangat tinggi untuk dijadikan Lokasi wisata. Tahap selanjutnya, mungkin kami akan bekerjasama dengan pihak lokal,” tandas Farah.

Sementara itu, selain Kabid Pariwisata Disbudporapar, peresmian A.T.I.C juga dihadiri oleh perwakilan pemerintah, tokoh Masyarakat setempat, Seniman dan Budayawan, Pelaku UMKM, Pemuka Agama, salah satunya adalah Ketua PC NU Kota Surabaya KH Masduki Toha dan Kalanga media.  

Bersamaan dengan peresmian ATIC, digelar pula pameran seni rupa bertajuk Menjejak Pesona Ampel yang menampilkan lima karya dari kelompok seni rupa Lintang Lima asal Yogyakarta. Mereka adalah Evrie Irmasari, Yosi Chatam, Eddy Soebroto, Yanz Haryo, dan Tara Noesantara.

“Lima lukisan ini baru dibikin semua dan ini merupakan awal atau penanda banyak hal tentang Ampel yang bisa diangkat dalam karya seni,” kata Heti Palestina, pegiat seni sekaligus inisiator di kegiatan tersebut.

Selain Pameran Seni, peluncuran A.T.I.C. juga dimeriahkan dengan sarasehan budaya bertajuk ‘Menapak Jejak Peradaban Sang Sunan’ yang membahas peran Sunan Ampel atau Kanjeng Raden Rahmad ketika melakukan dakwah sambil berniaga di Kawasan Ampel Denta atau yang kini dikenal dengan sebutan Ampel.

Pemateri sarasehan tersebut antara lain Riadi Ngasiran, Wakil Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Surabaya yang juga seorang jurnalis, Nanang Purwono pegiat budaya aksara Rajapatni dan  perwakilan dari pengurus Takmir Masjid Ampel, Surabaya.*