Rayakan Satu Dekade FSAI, Sinefil Surabaya dan Alumni Australia Gelar Nobar Film Australia-Indonesia

Konsulat-Jenderal (Konjen) Australia baru saja menggelar Festival Sinema Australia Indonesia (FSAI) dan Nobar bersama OzAlum di Surabaya pada Jumat (14/6). Acara yang bertempat di XXI Ciputra World Surabaya itu dilaksanakan dalam rangka perayaan ulang tahun ke-10 FSAI.
Acara yang telah rutin diadakan sejak 2016 itu dihadiri oleh alumni Australia dan ‘sinefil’ atau penggemar film di Surabaya. Selain itu, sejumlah pejabat seperti perwakilan Pemerintah Provinsi (pemprov) Jawa Timur dan Pemerintah Kota (pemkot) Surabaya juga turut hadir untuk memberikan sambutan.
Para tamu undangan yang hadir diajak untuk melakukan nonton bareng ‘nobar’ dua film garapan filmmaker Indonesia dan Australia di Studio 1. Film pertama yang ditayangkan adalah ‘Film Wajib Tonton Sebelum Mati’, sebuah film pendek karya Asmi Nurais, alumni Australia Awards Short Course. Film ini menjadi salah satu pemenang untuk kategori film pendek pada Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 2024. ‘The Dry’ yang memenangkan Perhargaan Akademi Sinema dan Seni Televisi Australia (AACTA) 2021 untuk Sinematografi Terbaik dan Skenario Adaptasi Terbaik juga ditampilkan sebagai film kedua yang diputar.

Menurut Sanchi Davis, Penjabat Konjen Australia di Surabaya, diadakannya FSAI tak hanya menjadi wadah pertukaran budaya, namun juga untuk mendukung hubungan kerja sama antara Indonesia dan Australia yang telah berlangsung sejak lama. Selain itu, pertemuan antar alumni Australia juga diharapkan menjadi kesempatan untuk menjalin koneksi dan mempererat tali persaudaraan.
“Festival seperti ini kesempatan untuk semua alumni Australia bisa berkumpul dan bertemu. Jadi, supaya bisa membuat koneksi, memperkuat hubungan antara Australia dan Indonesia,” ujarnya.
Ketika ditanya mengenai alasan pemilihan pemutaran kedua film tersebut, ia menuturkan bahwa “film pertama dibuat oleh alumni Australia, orang Indonesia. Sedangkan film kedua, ‘The Dry’, dipilih agar penonton Indonesia mendapat visualisasi tentang Australia dan situasi yang agak unik. Jadi, saya harap anda semua menikmati filmnya.”
Dr Kerreen Ely-Harper berpendapat bahwa FSAI 2025 penting untuk diadakan sebagai sarana edukasi para sineas muda yang baru merintis karier di bidang perfilman. Ia menekankan bahwa media sosial berperan penting dalam mendukung produksi film yang dibuat menggunakan ponsel sebagai langkah awal. Meski begitu, para sineas perlu memperhatikan jangkauan audiens. Kerreen menegaskan, “kalau Anda tidak memiliki kehadiran online, dan film karya Anda tidak memiliki penonton, Anda tidak akan bisa melangkah lebih jauh.”
Sementara itu, Konjen Australia juga menggelar masterclass yang dipandu oleh Dr Kerreen Ely-Harper, pakar film Australia dari Universitas Curtin. Kelas bertema “Building Capacity, Resilience, and Creative Connectivity” tersebut membahas mengenai cara menggunakan media sosial untuk mempromosikan inovasi, keberagaman, dan inklusi dalam pembuatan film.
Tak hanya digelar di Surabaya, nobar dan masterclass yang menjadi rangkaian FSAI 2025 juga diadakan di sembilan kota lain di Indonesia. Di antaranya adalah Jakarta, Yogyakarta, Mataram, Padang, Bandung, Manado, Semarang, Denpasar, dan Makassar. Acara ini berlangsung mulai 15 Mei – 14 Juni 2025. *kim



