Rayakan HUT ke-732 kota Surabaya, Griya Gemati Gelar Sayembara Parikan dan Membatik Bareng

Griya Gemati, produsen kain batik & shibori, dan D’Toekoe Kedai Makanan & Kopi menggelar acara bertajuk Sayembara Parikan, Minggu (18/5). Event yang berlangsung di D’Toekoe, Jalan Taman Simpang 7 Surabaya itu diadakan dalam rangka Hari Jadi kota Surabaya yang ke-732. Hadir sebagai peserta adalah dari kalangan komunitas hobi, penggemar wastra, pegiat seni hingga perwakilan Institut Francais Indonesia (IFI) Surabaya.
Meski bertajuk Sayembara Parikan, event hari itu terdiri dari dua kegiatan, menulis parikan dan membatik. Menurut Leo Arif Budiman, pemilik Griya Gemati, kegiatan itu memang jadi wadah untuk mengangkat kembali semangat berkarya masyarakat Surabaya melalui membatik.
“Jadi ada dua teknik membatik yang akan diajarkan ke peserta disini, parikan dan ngeblat,” ujar Leo yang juga founder komunitas Disabilitas Berkarya itu.

Teknik parikan dilakukan dengan menulis parikan atau pantun pada kain batik, yang kemudian dililin menggunakan canting. Sementara itu, teknik ngeblat adalah menjiplak gambar yang sudah disiapkan ke kain batik sebagai pola awal.
Peserta juga dikenalkan dengan perbedaan antara batik tulis dan batik lukis. Batik tulis digambar dengan menggunakan canting, sedangkan batik lukis digambar dengan memakai kuas. Meskipun demikian, dalam praktiknya, teknik ini bisa dikombinasikan, terlebih untuk detail-detail kecil yang sulit dijangkau dengan kuas.

Leo berharap kegiatan itu bisa jadi penyemangat bagi generasi muda dan masyarakat umum untuk mencintai batik. Diia juga menambahakan bahwa kegiatan membatik bareng yang digelar oleh Griya Gemati juga menjadi bukti bahwa pelestarian budaya dapat dilakukan dengan cara kreatif dan menyenangkan.
Leo juga optimis kegiatan tersebut mendapat respon postif dari masyarakat. Ini terlihat dari antusiasme mereka selama kegiatan. Kristina Andita Pradani, peserta asal Surabaya adalah salah satunya. Selama proses membatik, dia menuliskan aksara Jawa ‘Surabaya’ dan motif bunga di pinggiran kain batik. Andita, demikian biasa disapa, ingin mengungkapkan pesan bahwa Surabaya adalah kota yang berbunga dan memiliki akar budaya Jawa yang harus dilestarikan.
“Seru banget, tadi prosesnya bener-bener dicelupin kayak handmade. Aku jadi tau, ternyata begini toh proses batik yang biasa aku pakai,” ungkap Andita. Baginya, proses pewarnaan menjadi bagian paling menarik selama membatik.
Andita juga berharap bahwa masyarakat bisa menghargai batik sebagai warisan budaya Indonesia. “Kita sebagai orang Indonesia harus bangga punya budaya batik. Setidaknya tahu prosesnya,” lanjutnya.

Tak hanya praktik, peserta juga mendapatkan edukasi menarik tentang sejarah batik. Misalnya, tentang batik shibori yang berasal dari Jepang dan hanya menggunakan satu warna, namun ketika sampai di Indonesia, warna tersebut berkembang menjadi berbagai macam warna. Atau batik encim yang awalnya berasal dari baju khas China, serta batik kolonial yang memuat gambar kapal dan peperangan ala Belanda. *ang



