EVENT

Olivia Yacé Mundur dari Status Miss Universe Africa & Oceania 2025, Ini Respons President Miss Universe!

Olivia Yacé, runner-up keempat Miss Universe 2025 asal Côte d’Ivoire
Fenews

Final ajang Miss Universe 2025 yang digelar di Thailand telah berakhir, namun sorotan warganet ke acara ini justru semakin memuncak. Salah satu alasannya berasal dari Olivia Yacé, runner-up keempat asal Côte d’Ivoire. Ia secara mengejutkan memutuskan mundur dari gelarnya sebagai Miss Universe Africa & Oceania 2025 pada Selasa (25/11).

Melalui unggahan di Instagram, Olivia menyampaikan bahwa ia mengembalikan mahkota dan memilih tidak lagi terlibat dengan ajang Miss Universe. Keputusan ini, ia diambil demi mempertahankan nilai dan prinsip yang selama ini ia pegang. “Untuk mencapai potensi penuh saya, saya harus tetap berpegang pada prinsip-prinsip nilai,” tulisnya dalam bahasa Inggris. Ia menambahkan bahwa langkah mundur ini memungkinkan dirinya fokus menjadi pengaruh positif sesuai prinsipnya.

Tak hanya itu, ia juga menyampaikan dukungan untuk perempuan kulit hitam di Afrika, Karibia, Amerika, dan komunitas diaspora, mendorong mereka untuk percaya pada kemampuan diri. Olivia menegaskan bahwa potensi generasi muda tidak seharusnya terbatasi oleh penilaian siapapun. Olivia juga mengucapkan selamat kepada pemenang Miss Universe 2025 yakni Fatima Bosch kontestan asal Meksiko. Ia juga menyampaikan rasa terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung perjalanannya.

Pernyataan mundurnya Miss Olivia Yacé, runner-up keempat asal Côte d’Ivoire (Foto: Instagram/olivia.yace)

Baca Juga: Mengenal Fátima Bosch, Pemenang Miss Universe 2025 yang Sempat Walk Out

Di sisi lain, Presiden Organisasi Miss Universe (MUO), Raul Rocha, turut menjadi sorotan setelah memberikan jawaban mengenai berbagai perdebatan yang muncul pasca-penobatan. Dalam video wawancara Raul yang beredar luas di media sosial, Ia menyinggung faktor kekuatan paspor sebagai salah satu pertimbangan dalam pemilihan pemenang Miss Universe.

Presiden MUO itu blak-blakan menyebut bahwa Olivia Yacé sulit memenangkan Miss Universe karena Côte d’Ivoire membutuhkan visa untuk memasuki 175 negara. Ia menilai bahwa seorang Miss Universe harus mampu bepergian ke berbagai negara sepanjang tahun masa tugasnya sesuatu yang menurutnya akan terhambat oleh kekuatan paspor sang kontestan.

“Orang-orang bertanya kenapa dia tidak menang? karena banyak hal yang dinilai. Côte d’Ivoire membutuhkan, silakan cek Google semua orang punya ponsel, dan lihat berapa banyak negara yang meminta visa bagi pemegang paspor Côte d’Ivoire untuk masuk yaitu 175. Apa? Ya, 175. Pekerjaan Miss Universe itu berlangsung selama satu tahun dan 175 negara meminta visa untuk Côte d’Ivoire. Kalau begitu, dia akan menjadi Miss Universe yang menghabiskan waktu satu tahun penuh di apartemen. Tentu saja kami ingin pemenangnya bisa mendunia (Universe), seseorang yang melakukan banyak perjalanan, dan menjalin banyak kontrak dengan orang-orang di seluruh dunia,” ucapnya dalam bahasa Spanyol.


Kebersamaan Miss Côte d’Ivoire dengan Miss Guadeloupe. Tanggapan Ophély Mézino tentang pernyataan Presiden Miss Universe (Foto: Instagram/ophelymezinooff)

Baca Juga: Nadeen Ayoub Jadi Wanita Palestina Pertama di Miss Universe 2025

Banyak yang menilai pernyataan tersebut tidak pantas, bahkan dianggap merendahkan negara-negara dengan kekuatan paspor yang lebih rendah. Fans mempertanyakan apakah Miss Universe benar-benar menilai kandidat secara adil jika faktor visa ikut menentukan pemenang.

Kontroversi semakin melebar ketika Miss Guadeloupe, Ophély Mézino, turut mengecam pernyataan Raul. Ia menuding MUO telah memperlakukan negara-negara kecil dan wilayah Afro-Karibia secara tidak adil. Ophély menyebut alasan visa sebagai ‘penghinaan’ dan mempertanyakan apakah organisasi itu sejak awal sudah tahu bahwa beberapa peserta tidak memiliki peluang menang.

Miss Universe 2025 sendiri sejak awal sudah dikelilingi drama, mulai dari komentar Direktur Nawat terhadap kontestan Meksiko, insiden keracunan makanan, hingga peserta dan juri yang memilih mundur. Tuduhan kecurangan pun turut menyeruak di berbagai komunitas pageant.*dym