
Tak lengkap menjelajah Surabaya tanpa ke Ampel. Dalam peta wisata Surabaya, kawasan itu termasuk wisata Segi Tiga Emas. Yakni terdiri dari wisata religi dan kuliner Ampel, wisata sejarah di Kampoeng Heritage Peneleh, dan berakhir di kawasan Kota Lama Surabaya.
Demi menguatkan promosi Segi Tiga Emas, Quds Royal Hotel Surabaya yang juga berada di kawasan Ampel menggagas Ampel Tourist Information Center (ATIC). Peresmian Pusat Pelayanan Informasi ini yang berlangsung pada 8 Agustus 2025 itu dimarakkan dengan menggandeng Lintang Lima untuk unjuk pamer pesona Ampel dalam lukisan. Mereka adalah seniman Eddy Subroto, Evrie Irmasari, Yosi Chatam, Tara Noesantara, dan Yanz Haryo Darmista.
Dalam tema ‘Menjejak Pesona Ampel’, perupa Yogyakarta itu berusaha menangkap kekuatan wisata religi Ampel tersebut untuk dipamerkan selama satu bulan. Semua karya dalam media acrylic on canvas itu hasil dari proses terbaru mereka pada tahun ini. Sengaja khusus dibuat untuk mendukung keberadaan Quds dengan ATIC.
Lewat karya Eddy, pelukis asal Madiun yang juga seniman teater, ‘Jejak yang Lampau’, penikmat seni rupa diiajak melihat sejarah lampau Masjid Sunan Ampel. Tak bisa lupa bahwa kawasan ini adalah salah satu peninggalan sejarah penting yang dihidupkan oleh Sunan Ampel selama menyebarkan agama Islam di Jawa. Mengambil suasana dahulu yang sahaja, siapa pun terkagum pada masjid yang berdiri kokoh hingga sekarang.


Masih berkutat pada masa dahulu, karya Yanz, seorang dramawan, ‘Kenangan di Gapura Munggah’, membawa ingatan-ingatan di salah satu sudut di Ampel. Gapura yang menjadi salah satu pintu masuk menuju makam Sunan Ampel di sisi selatan itu, memang tak pernah pudar keagungannya. Seperti yang tampak dari hiasan inskripsi yang diperkirakan berasal dari kisaran 1539.
Tak jauh dari seputaran objek masjid, Evrie yang piawai membuat kukis itu melukis ‘Menuju Langkah Sunan’ mengangkat peran seorang wali besar yakni Ali Rahmatullah atau yang dikenal dengan Sunan Ampel yang menyebarkan ajaran Islam di Tanah Jawa. Serupa panggilan ke Tanah Suci, Masjid Ampel bagai magnit yang kuat bagi mereka yang ingin mengikuti amalan sunan.
Pun Tara yang masih terpikat keindahan Ampel. Selain arsitektur masjid yang khas, tempat ibadah yang tetap menjadi tujuan ibadah terpopuler di Surabaya itu ditelisik dari interiornya yang menawan. Sesuai judulnya, ‘Pesona Rumah Tuhan’, lukisan penulis puisi, penari, dan dosen itu makin menguatkan pesona arsitektur masjid yang beraura magis.
Lebih riang dalam warna, Yosi yang juga pengusaha kuliner, siapa saja diantarnya untuk mengamati lebih detail beberapa destinasi yang favorit di kawasan Ampel dalam lukisan berjudul ‘Tautan Kisah di Ampel’. Sambil menjelajah Ampel, akan ada banyak kisah yang terceritakan.
”Dari lukisan, lima karya itu diharapkan menjadi pijakan bagi siapa saja yang ingin berpetualang lebih jauh di Ampel. Dari lukisan pula, siapa pun tak akan mudah berpaling dari Ampel yang menawan tanpa pernah lekang,” kata Evrie, mewakili Lintang Lima.
Cluster General Manager Quds Hotel Group Indonesia, Pungky Kusuma mereson positif keterlibatan Lintang Lima. “Mereka bisa jadi pelengkap. Para pengunjung yang datang untuk memanfaatkan pusat layanan informasi, bisa sekaligus menikmati lukisan yang senada dengan suasana di sekitar lingkungan hotel,” katanya. *



