Menelusuri Kampung Batik Jetis Sidoarjo: Bertahan, Meski Mulai Ditinggalkan

Sejak disahkan sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO, popularitas batik di Indonesia makin meningkat. Bahkan hampir di tiap daerah atau kota punya ciri khas masing-masing. Begitu juga dengan Sidoarjo yang terkenal dengan batik tulis yang berpusat di kawasan Kampung Jetis, Kelurahan Lemah Putro.
Kawasan ini eksis sejak tahun 1675. Sejarah berdirinya pun masih diabadikan di gapura samping jalan, tepat sebelum masuk perkampungan. “Kala itu, seorang yang konon masih disebut keturunan raja dikejar-kejar penjajah dan lari ke Sidoarjo. Sayangnya, sampai sekarang belum ada data akurat, siapa sebenarnya dan dari kerajaan mana pria yang menyamar sebagai pedagang, dan dikenal dengan sebutan Mbah Mulyadi tersebut,” demikian keterangan di gapura itu.
“Bersama para pengawalnya, Mbah Mulyadi mengawali berdagang di ‘pasar kaget’ yang kini dikenal dengan nama Pasar Jetis. Selain memberi pelajaran mengaji dan memelajari Al-Qur’an serta selalu mengajak salat berjamaah, Mbah Mulyadi juga melakukan pendekatan kepada masyarakat setempat dengan memberikan pelatihan keterampilan membatik,” lanjut keterangan tersebut.
Tak cukup demikian. Gapura informatif yang dibingkai motif batik berlatar biru itu juga menerangkan bahwa kerajinan batik tulis di sana semakin berkembang. Satu demi satu penduduk setempat tumbuh menjadi perajin dan pengusaha batik.
Lambat laun, batik Jetis nyatanya menyita perhatian masyarakat luas. Salah satunya adalah para pedagang asal Madura. Hingga kini, mereka masih menjadi penggemar ulung batik Jetis.
Di dalam beberapa kesempatan, mereka pun mulai meminta motif batik yang beragam. Dengan begitu, batik Jetis yang semula identik dengan nuansa gelap dengan warna cokelat soga, lalu mulai diproduksi menjadi batik dengan warna yang cerah. Tak ayal, batik Jetis juga kerap dikenal sebagai batik Madura.

Dulunya, sentra batik tulis Jetis ramai dikunjungi pelanggan. Sederhananya, kawasan tersebut telah menjadi tempat andalan ketika mereka mencari batik. Namun sayang, seiring waktu, jumlah pengunjung makin menurun. Jalanan yang dulu dipenuhi gerai-gerai batik milik warga, satu demi satu, mulai tutup. Mereka gulung tikar.
Ternyata benar, eksistensi Kampung Batik Jetis tengah menurun. Akibatnya, jika para pengusaha batik ingin bertahan, maka dia harus melakukan banyak inovasi. Misalnya, menjual batik yang bukan menjadi ciri khas Kampung Jetis.
Contohnya Rikhi, pemilik gerai Batik Rimanda yang juga asli warga setempat mengaku mengalami banyak tantangan dalam mempertahankan usaha batik tulis. Namun, hingga kini ia memilih tetap bertahan. Pria jangkung itu lantas menyiasati usaha batiknya dengan tak hanya menjual batik tulis saja. Tokonya yang buka setiap hari itu juga menyediakan batik cap dan printing.
Hal yang sama dilakukan oleh Hanum. Meskipun gerai batik miliknya menjadi toko pertama yang menyambut kedatangan pengunjung—karena letaknya tepat berada setelah jalan masuk Kampung Batik Jetis—sehingga dapat langsung menarik perhatian orang, ia juga merasakan adanya penurunan omzet. Perempuan yang berasal dari keluarga pembatik itu sadar betul bahwa ada banyak aspek yang memengaruhi masalah tersebut.

Salah satunya adalah bisnis online yang kini marak di masyarakat. Ia sendiri sudah pernah mencobanya. Tapi, owner Adis Batik itu berujung memutuskan bahwa untuk saat ini, usaha batiknya akan tetap dijalankan secara offline.
“Saya nggak telaten, (harus, red) update terus,” ujar alumnus Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya (ITATS) tersebut.
Pengusaha lainnya yang bertahan adalah Titik Namiroh. Tak hanya menjadi generasi kedua dari Namiroh Batik, ia adalah seorang perajin yang telah lama berkecimpung dalam dunia batik tulis. Pada mulanya, putri pembatik ulung, Hj. Musyafa’ah, ini hanya berfokus menjual batik tulis. Meneruskan usaha keluarga yang tengah berkembang karena menjadi salah satu brand favorit masyarakat.
Namun, karena konsumennya perlahan mulai menurun, sedangkan di sisi lain ia juga harus memenuhi permintaan pasar, akhirnya Namiroh Batik kini juga menjual jenis batik yang lain. Contohnya, batik semi printing. Di samping harganya yang lebih terjangkau, proses produksinya juga lebih cepat. Tak heran, banyak masyarakat yang beralih ke jenis batik printing.
Di sisi lain, perempuan yang mulai mempelajari batik sejak masih belia itu juga merasakan penurunan minat generasi muda untuk menjadi perajin batik. Titik mengungkap kalau anak muda sekarang lebih suka bekerja di pabrik dibandingkan membatik.
“Anak-anak yang di desa itu kalau pabriknya rame ke pabrik ae (saja, red). Kalau pabriknya sepi, mlayu (lari, red) ke sini semua,” terang perempuan itu. “Mangkanya hampir pudar batik tulis kalau nggak dikader,” imbuhnya.
Titik beranggapan bahwa fenomena ini perlu diwaspadai. Jika dibiarkan, takutnya tak ada lagi penerus batik tulis di Kampung Jetis. Padahal, batik bukan hanya menjadi warisan budaya, melainkan juga daya tarik wisatawan. Para turis mancanegara contohnya. Mereka ternyata tertarik memelajari berbagai kesenian Indonesia, termasuk batik tulis yang masih handmade daripada batik yang diproduksi pabrik.
Hal tersebut diungkapkan Titik dari pengalamannya sendiri saat berbagi ilmu pada mereka. “Negara luar loh belajar ke sini. Dapat enam bulanan guru-guru (dari, red) Singapura itu (belajar di sini, red). Terus yang kalau guru-guru Australia itu sudah dua tahun (yang lalu, red),” katanya.

Titik memang terbuka pada siapa saja yang hendak belajar di rumah produksinya. Mereka akan diajari dari nol. Namun, ia menyoroti ironi ketika wisatawan mancanegara justru yang meminta diajari membatik di saat generasi muda Indonesia mulai abai dengan batik. Di situlah kekhawatiran Titik muncul. “Karena kalau kamu lupa sama budayamu, (budaya, red) kamu diambil negara luar,” tuturnya.
Pengakuan dari beberapa pengusaha serta perajin batik itu dibenarkan oleh Kepala Bidang Pariwisata Sidoarjo, Vira Murti Krida Laksmi. Perempuan berjilbab itu menyebut ada tiga kondisi yang menyebabkan turunnya minat masyarakat terhadap batik tulis Jetis.
Pertama, faktor ekonomi lesu akibat Covid-19 yang membuat banyak perajin batik yang beralih profesi. Kedua, tidak adanya regenerasi di keluarga perajin batik tulis. Ketiga, krisis ekonomi global yang menyebabkan tingginya persaingan penjualan batik yang kini merambah ke banyak wilayah, tak di Jetis saja. Hal ini juga dipengaruhi oleh keturunan para perajin batik yang membuka usaha batik di luar Jetis.
“Sehingga (hal tersebut, red) mengakibatkan populasi perajin batik Jetis ini terpencar, tidak lagi terkumpul di Kampung Batik Jetis,” ujarnya. “Sehingga, potensi untuk memperkaya kawasan Kampung Batik Jetis itu dengan perajin-perajin lokal batik Jetis itu menurun,” imbuh perempuan tersebut.
Untuk menghadapi tantangan ini, Vira menuturkan bahwa pemerintah Sidoarjo akan melakukan re-branding Kampung Batik Jetis mulai pintu masuk hingga sebelum Pasar Jetis. Sayangnya, langkah re-branding yang harusnya terselenggara tahun ini, harus diundur terlebih dahulu.
“Seharusnya (rencana itu, red) kita mulai tahun ini. Namun, ada beberapa dampak akibat dari Inpres terkait pergeseran, sehingga kita harus memprioritaskan penggunaan anggaran itu ke infrastruktur pembangunan,” ujar ibu dua anak ini.
“Jadi, mungkin kita akan mulai start itu di tahun 2026,” imbuhnya.
Mereka juga akan berupaya menambah kecintaan generasi muda dan masyarakat umum pada batik Sidoarjo. Selain dengan cara mewajibkan mereka menggunakan batik Sidoarjo dalam momen tertentu, pemerintah juga akan menggelar pelatihan batik tulis terbuka. Tapi, tak hanya itu. Penyelenggaraan agenda akbar tahunan yang mengolaborasikan para perajin batik Jetis dan penguatan akses bahan produksi agar perajin mendapatkan harga yang murah juga akan dilakukan.*pis



