FASHION

Founder & CEO KaIND Blak-Blakkan Tentang Pentingnya Konsep Sustainable Fashion

Sustainable fashion atau fashion berkelanjutan. (Foto. rizzliving.com)
Fenews

Di tengah gencarnya tren mode yang terus berkembang, muncul kesadaran baru akan pentingnya memilih busana yang tidak hanya indah dipakai, tetapi juga ramah bagi lingkungan dan manusia. Istilah ‘sustainable fashion’ pun semakin sering terdengar, walaupun masih banyak yang belum benar-benar memahami maknanya. Secara sederhana, sustainable fashion adalah konsep mode yang menekankan keberlanjutan, yaitu bagaimana pakaian dirancang, diproduksi, digunakan, hingga akhirnya dibuang dengan cara yang tidak memberikan dampak buruk berlebihan bagi bumi maupun manusia.

Founder & CEO KaIND sekaligus pakar sustainable fashion, Melie Indarto, menyebut perbedaan utama antara sustainable fashion dan fashion biasa terletak pada keberpihakan. Fashion konvensional sering tidak memikirkan ‘biaya sesungguhnya’ yang ada di balik sebuah produk, baik dari proses produksi maupun dampaknya terhadap sosial dan lingkungan. Sementara itu, sustainable fashion justru memperhatikan hal-hal tersebut. “Di sustainable fashion, keberpihakan kita jelas kepada alam, kepada manusia, dan kepada dampak yang ditinggalkan dari sebuah produk,” jelas Melie.

Sekilas konsep sustainable fashion terlihat sederhana, namun kenyataannya pemahaman masyarakat tentang sustainable fashion sendiri sebenarnya masih tergolong baru untuk dipelajari. Melie menambahkan, “Lima tahun terakhir, apalagi setelah pandemi, kita masih dalam tahap belajar bagaimana cara menggunakan busana yang lebih aman dan lebih sehat.”

Langkah awal yang biasanya menjadi perhatian adalah soal material. Pilihan bahan yang ramah lingkungan, bebas plastik, menjadi prioritas utama. “Pembahamannya saat ini adalah menggunakan bahan seperti katun, tencel dan viskos,” ujar Melie.

Melie Indarto saat diwawancara oleh redaksi Fenews. (Foto. Yessy)

Baca juga: Ingin Bergaya Tanpa Merusak Lingkungan? Yuk, Kenali Sustainable Fashion!

Jika bagi konsumen fokus utamanya masih pada pemahaman material, brand justru dihadapkan pada tantangan yang lebih besar yaitu keseimbangan. “Karena ekosistem sustainable fashion di Indonesia masih punya banyak PR, proses produksi pasti akan berpengaruh pada biaya. Kita harus bisa menyeimbangkan antara biaya produksi, kreativitas, dan juga selera pasar,” tutur Melie.

Melie menambahkan, keseimbangan ini juga termasuk bagaimana brand bisa menarik inspirasi dari kearifan lokal yang ada di berbagai daerah. “Kalau terlalu reaktif atau terlalu ideologis, sustainable fashion justru bisa jadi sulit diterima oleh masyarakat dan pasar kita sendiri,” ujarnya.

Langkah strategis yang dapat dilakukan brand agar tidak hanya eco-friendly tetapi juga fashionable, dimulai dari pemilihan material. Melie mengungkapkan, “Nomor satu pasti material. Bagaimana caranya supaya bahan alami yang kita pakai bisa terlihat secara visual sama nyamannya, bahkan bisa menyaingi performa material berbasis plastik.”

Melie mencontohkan, bahan plastik biasanya memiliki keunggulan seperti anti kusut, sementara bahan alami memiliki kesan lusuh. Namun hal tersebut sebenarnya wajar, karena memang menjadi ciri khas dari material alami.

Selain dari sisi material, pendekatan visual juga penting. Brand harus dapat memberikan kesan bahwa busana yang berbahan alami tetap bisa terlihat stylish. Tentu saja sosial media memiliki peran yang besar. “Dari sana kita bisa terus menciptakan awareness, kenapa kita harus pakai bahan ini, apa alasannya, dan membangun edukasi secara rutin,” ujar Melie.

Untuk orang awam, Melie menyarankan agar selalu melakukan cek dengan perhatian ekstra saat ingin membeli produk sustainable fashion. “Pertama cek dulu labelnya. Kalau di situ masih ada material berbasis plastik, itu sudah jadi tanda kalau produk tersebut belum benar-benar ramah lingkungan,” jelasnya.

Setelah itu, konsumen juga bisa menelusuri lebih jauh melalui media sosial brand tersebut, apakah mereka rutin memberikan edukasi kepada para pengikutnya. Selain itu, website brand juga bisa jadi sumber informasi. Melie menjelaskan, “Dari sana kita bisa lihat the story behind produk itu. Kalau brand mau terbuka berbagi proses produksinya, akan jauh lebih mudah bagi kita sebagai konsumen untuk memahami visi dan nilai yang mereka bawa.” *tes