Film #KitaBerkebaya Gaungkan Kebaya sebagai Identitas Perempuan Indonesia

24 Juli menjadi hari yang spesial bagi seluruh perempuan Indonesia. Bukan tanpa alasan, Keputusan Presiden No. 19 Tahun 2023 telah menetapkan tanggal tersebut sebagai Hari Kebaya Nasional. Penetapan tersebut menjadi upaya pelestarian warisan budaya serta pengingat bagi para perempuan bahwa kebaya merupakan identitas serta representasi diri mereka. Berlandaskan motivasi tersebut, Bakti Budaya Djarum Foundation merilis film pendek bertajuk #KitaBerkebaya yang telah resmi ditayangkan melalui kanal YouTube Indonesia Kaya pada Kamis (24/7).
Film berdurasi 14 menit 7 detik itu mengisahkan tentang seorang perempuan yang sedih tatkala melihat sebuah toko kebaya kian jarang dikunjungi pembeli. Ia lantas tergerak untuk menyulut api semangat para perempuan di Indonesia untuk menyuarakan kekuatan kebaya yang tak seharusnya hanya diingat sebagai warisan budaya dari para leluhur, namun juga sebagai identitas yang harus tetap dilestarikan.
Renitasari Adrian selaku Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation pun menyebutkan bahwa kebaya sebagai identitas budaya mampu menyatukan seluruh perempuan Indonesia tanpa memandang latar belakang masing-masing. Hal tersebut ia sampaikan melalui melalui konferensi pers yang digelar di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia, Jakarta, Selasa (22/7).
“Melalui #KitaBerkebaya, kami ingin kembali mengingatkan bahwa kebaya merupakan identitas bangsa yang mempersatukan segala kelas sosial dan lintas batas wilayah yang tersebar di seluruh Nusantara dengan berbagai variasi,” ujar Renitasari. “Kami ingin kebaya dapat kembali hadir dalam aktivitas sehari-hari, bukan hanya sebagai simbol budaya, tetapi juga sebagai kekuatan ekonomi yang memberdayakan, baik dari penjual kain, penjahit, pembatik, perancang busana, hingga pelaku industri kreatif lainnya di seluruh Indonesia.”
Film berdurasi 14 menit 7 detik itu diprakarsai oleh Bramsky selaku sutradara dan Hagai Pakan selaku Konseptor dan Penata Busana. Menurutnya, kebaya yang menjadi simbol utama dalam film garapannya justru mampu menjadi representasi perempuan yang mengenakannya, alih-alih sekadar busana tanpa jiwa.
“Melalui film ini, kami ingin menggambarkan kebaya sebagai sesuatu yang hidup, bukan beku. Sesuatu yang bisa marah, bisa lembut, bisa keras kepala, bisa penuh kasih, seperti perempuan itu sendiri,” tutur sang sutradara.
#KitaBerkebaya melibatkan sekitar 250 perempuan selama proses produksinya. Para perempuan tersebut didatangkan dari berbagai komunitas di Indonesia, di antaranya adalah Kebaya Menari, Abang None Jakarta, Putra Putri Batik, Lestari Ayu Bulan, dan para peserta program Intensif Musikal Budaya dari berbagai daerah. Sejumlah nama besar di industri peran Tanah Air pun turut mewarnai film tersebut. Sebut saja Maudy Ayunda, disusul oleh Maudy Koesnaedi, Tara Basro, Dian Sastrowardoyo, Eva Celia, Raihanun, Titi Radjo Padmaja, Andien, hingga Lutesha.

Maudy Ayunda yang berperan sebagai karakter utama menilai kebaya sebagai simbol perlawanan yang anggun bagi para perempuan Indonesia. Pelantun Perahu Kertas itu menyebut, “kita tidak selalu perlu meninggikan suara untuk menyampaikan pendapat, karena kadang, apa yang kita kenakan sudah cukup bicara.”
Melalui #KitaBerkebaya, Renitasari berharap film tersebut mampu memupuk rasa cinta terhadap kebaya bagi para perempuan Indonesia. Ia juga menekankan pentingnya kesadaran dalam mengenakan kebaya sebagai bentuk ekspresi diri dan penghargaan terhadap jati diri perempuan Indonesia.
“Karena saat kita memilih untuk mengenakan kebaya, kita sedang merayakan siapa diri kita sebagai perempuan Indonesia dengan segala kekuatan, keindahan, dan kompleksitasnya,” tandasnya. *kim



