Esti Yuniarti, Sosok Kuat di Balik Kesuksesan Fira Modeling Disabilitas

Fira Modeling Disabilitas (FMD) ikut memeriahkan Surabaya Kids Festival 2025 yang digelar FENEWS, 26-27 April lalu di Maspion Square Surabaya. Dalam gelaran itu, anak-anak yang tergabung dalam komunitas tersebut tampil menarik dalam balutan kebaya dan batik. Mereka lantas melenggang dengan anggun di atas panggung.
Selain untuk memeriahkan Surabaya Kids Festival tahun ini, aksi itu memang dalam rangka ikut merayakan hari Kartini pada 21 April. Karena itu tak heran kalau anak-anak yang semuanya adalah penyandang disabilitas mengenakan busana kebaya, sebuah simbol untuk menghormati Raden Ajeng Kartini. Tak hanya fashion show, mereka juga membaca puisi yang bercerita tentang perjuangan Kartini.
Semua aksi itu mungkin terasa biasa bagi anak-anak normal. Tapi bagi mereka yang istimewa (sebutan untuk anak-anak disabilitas, red), butuh persiapan khusus untuk bisa tampil sebagus itu di atas panggung. “Pastinya mereka sudah latihan terlebih dahulu dan harus sabar mengajarinya,” ujar Esti Yuniarti, founder FMD.
Esti memang sosok di balik kesuksesan FMD. Awalnya, dia mendirikan komunitas itu untuk sang putri, Desy Ramadhani Maghfiroh Ayu Putri atau yang akrab disapa Fira, yang juga penyandang tuna rungu. Namun makin lama, FMD justru makin berkembang dan menjadi wadah bagi anak-anak disabilitas dalam berkarya. “Keberadaa Fira sangat menentukan komunitas ini berkembang,” tutur Esti saat ditemui di sela-sela acara.
Namun, dia juga tak memungkiri kalau bahwa tanpa ada kerjasama, semuanya tak akan bisa berjalan selaras. Hingga akhirnya, duo perempuan inilah yang menjadi nahkoda atas kesuksesan FMD hingga sekarang. Bukan tak mungkin tak ada aral dan rintangan. Namun bersama Fira, Esti mengaku selalu saling menguatkan.
Itu pun bagi dirinya yang seorang ibu. “Dalam keluarga aja ya, kalau misalnya ibunya udah lemes atau males-malesan, itu rumah kayak nggak ada semangatnya,” tutur perempuan asal Surabaya tersebut.

Esti juga menyoroti bahwa perempuan memang kehadirannya diperlukan dalam berbagai peran. Meski terkadang perempuan memang cerewet, tapi justru omelannya itulah yang diperlukan agar anggota keluarga yang lain dapat menjalankan tugasnya masing-masing.
“Meski bukan tulang punggung, perempuan punya andil besar sebagai penentu arah dalam rumah tangga. Karena mereka adalah nahkoda,” lanjutnya.
Kini, melalui FMD, Esti berusaha mengembangkan anak-anak disabiltas agar makin berkarya. Karena itu berbagai kegiatan dilakukan mulai belajar modeling, beauty class, tari tradisional, serta dance. Esti dan Fira sendiri yang bertindak sebagai mentornya.

Kebetulan Esti sudah berkecimpung di dunia modeling sejak remaja. Begitu pula Fira yang beberapa kali menjuarai kompetisi modeling hingga tingkat nasional. FMD sendiri telah berproses selama empat tahun atau sejak berdiri pada 2021. Hingga kini, komunitas tersebut sudah memiliki empat puluh anggota. Mereka adalah anak-anak disabilitas.
“Ada yang down syndrome, tuna rungu, autis, tuna grahita, tuna daksa dan slow leaener. Semua ada, kecuali tuna netra,” ungkap Esti. *pis



